Mengambil Kesempatan Untuk Menyelam Lebih Dalam

Halo, selamat pagi.

Langsung saja lah ya. *uhuk* Beberapa di antara teman-teman mungkin ada yang sudah mengetahui bahwa saya sekarang *uhuk* punya pacar lagi. Untuk orang-orang tertentu, memutuskan untuk menjalani sebuah hubungan romantis dan berkomitmen mungkin perkara mudah, mungkin orang-orang ini adalah mereka yang pemberani, serta tidak takut mengambil risiko. Mungkin juga mereka sudah tidak kepalang jatuh cinta.

Buat saya, tidak demikian.

Di awal tahun ini saya tahu bahwa saya akan menjalani hari-hari super padat dan sibuk menyangkut perkuliahan saya khususnya, sehingga tidak pernah terpikir untuk mencari pendamping hati *geli sendiri habis ngetik ini*. Bahkan sebetulnya sudah 2 tahun terakhir ini (dari 3 tahun masa jomblo saya —iye lama banget emang) saya memutuskan untuk sekadar mengeksplorasi,

I decided to stop loving,

and start flirting.

Iya, mungkin bisa dianalogikan seperti orang yang lebih suka berada di pinggir pantai, celup-celup kaki sedikit untuk tahu suhu airnya seperti apa. Saya pun akan lebih memilih untuk berenang di permukaan, tidak terlalu jauh dari bibir pantai supaya kalau ketemu hal-hal yang tidak saya suka dari perairannya saya bisa lekas-lekas kembali ke daratan, berjemur (padahal udah gelap begini), piknik, dan santai-santai.

Selama masa itu, kadang terbersit juga sedikit rasa heran, dan mungkin juga iri, dengan orang-orang yang bersedia menyelam begitu dalam, begitu lama, dan dengan usaha yang begitu besar ke dalam perairan itu untuk kemudian menemukan apa yang mereka cari. Kalaupun tidak menemukan apa yang mereka cari, paling tidak mereka suka dengan air lautnya. Mungkin di dalam sana hangat, mungkin juga pemandangannya bagus. Saya kurang tahu, karena saya tidak pernah melongok terlalu lama ke dalam. Apalagi mereka yang bersedia terluka oleh terumbu karang, namun tetap bertahan di perairan yang sama.

Saya selalu bertanya-tanya, buat apa menyulitkan diri sendiri?

Ya mungkin itu semua saya lakukan semata-mata karena saya tahu sakit hati itu sangat-sangat tidak enak. Dan saya sadar betul, paling tidak sampai setahun atau 2 tahun ke depan, saya tidak butuh sakit hati berkepanjangan.

Dan demikianlah, sampai kira-kira pertengahan tahun ini saya menjalani hari-hari saya dengan sangat enteng. Bukannya saya lantas tidak tertarik dengan siapapun, yah tentu saja ada orang-orang yang datang dan menyapa, beberapa bahkan tinggal lebih lama dan meninggalkan kesan yang cukup dalam. Beberapa kesempatan mungkin datang di waktu yang tidak tepat, kadang terlalu cepat, seringkali terlalu lambat.

Some of the feelings were real,

but my logic always win.

paling tidak, segala sesuatunya bisa saya kontrol……………………sampai akhir Mei ini.

Lalu, kenapa akhirnya memutuskan untuk berkomitmen lagi?

Itu dia pertanyaan terbesarnya, kenapa ya?

Karena memang ternyata tidak ada alasan yang betul-betul kuat sampai akhirnya menggoyahkan seluruh rasionalitas saya. Ya, itu entah kenapa terjadi dengan sendirinya. Mungkin juga pada dasarnya rasionalitas saya tidak begitu kuat juga sejak awal.

Rasanya semua terjadi dengan begitu cepat. Sebagai seorang yang dididik bertahun-tahun untuk terbiasa menganalisis segala situasi, untuk yang satu ini saya benar-benar merasa kecolongan, karena saya nggak menemukan seperti apa dinamikanya. Rasanya seperti disenggol dari belakang untuk tercebur ke dalam air, dan herannya saya menceburkan diri ke dalamnya.

Menyelam ke dalam sama sekali tidak mudah buat saya. Paling tidak, saya harus sudah siap sedia dengan perlengkapan selam yang dibutuhkan. Seminimal mungkin, saya sudah tahu informasi mengenai perairan yang hendak saya selami. Yah, mungkin karena saya sudah lelah berenang di permukaan, mungkin juga mataharinya sedang terlalu panas sehingga saya tidak bisa berjemur. Mungkin juga suhu airnya tepat, bahkan mungkin juga karena tidak ada promosi apapun dari perairan tersebut.

Bagaimana kalau di dalam nanti airnya pekat? Bagaimana kalau terumbu karangnya terlalu tajam sampai kaki saya tidak bisa dikayuh lagi? Bagaimana kalau ternyata saya harus terlempar keluar? Harus diakui, saya  tidak berani berharap tinggi-tinggi, dan saya takut setengah mati

But life is not about ‘what if’

Kalau sekarang tidak begini, mau kapan lagi?

Terima kasih,  Ramda Yanurzha,

Untuk kesempatan menyelam lebih dalam yang sudah ditawarkan, untuk kesempatan belajar mengenali hati, terutama untuk kesempatan jujur terhadap diri sendiri.

 

– D!-

*pengakuan: post sebelumnya juga tentang orang yang sama

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s