Jakarta : A Bad Romance

Serentetan ucapan dan doa banyak tertulis di timeline twitter seiring ulang tahun kota Jakarta yang ke-484 tanggal 22 Juni 2011 lalu. Beberapa di antara ucapan-ucapan selamat ulang tahun tersebut menyuarakan kalimat positif yang mengharapkan kemajuan ibukota kita ini, sementara beberapa yang lain tampak lebih banyak memaki-maki keadaan kota Jakarta yang dinilai tidak juga mengalami perubahan dan beberapa tampaknya terlalu putus asa untuk mengucap doa agar Jakarta dapat menjadi kota yang lebih baik atau paling tidak memperbaiki keadaannya sekarang. Namun, di antara yang mengucap doa positif maupun yang putus asa, yang paling banyak adalah mereka yang tampaknya justru bingung apa yang harus mereka rasakan mengenai kota Jakarta kita ini.

Banyak sekali orang yang mengemukakan bahwa mereka sebetulnya sayang sekali dengan kota yang telah menjadi tempat mereka tinggal selama bertahun-tahun. Namun di sisi lain, mereka juga mengemukakan rasa frustrasi mereka terhadap keadaan kota yang telah menjadi rumah mereka ini. Saya salah satu di antaranya. Sikap dan perasaan saya terhadap kota tempat saya lahir ini cenderung ambivalen antara sayang namun juga benci, bahasa gampangnya, labil. Saya mengalami apa yang saya sebut, jika boleh meminjam istilah yang digunakan oleh Lady Gaga, ‘Bad Romance’ dengan Jakarta. Jika melihat keadaan kota Jakarta, dengan segala hiruk pikuk-nya, dengan kekacauan lalu lintas dan sistem transportasinya, dengan kebobrokan urusan administrasi yang ada di kota ini, beserta polemik dan kekisruhan politik yang berputar di dalamnya, rasanya saya begitu tidak sabar untuk segera meninggalkannya. Sudah terlalu banyak kekecewaan dan tidak terhitung pula harapan yang harus saya kubur dalam-dalam, atau paling tidak, saya pendam di dalam hati tanpa berani memunculkannya ke permukaan, terhadap kota ini. Meninggalkannya adalah satu-satunya cara yang menurut saya paling baik demi kesehatan psikologis saya.

Namun di sisi lain, saya sendiri betul-betul tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya jika saya akhirnya benar-benar harus hidup di luar kota ini atau merantau dan meninggalkannya dalam waktu lama. Rasanya seluruh hal yang ada di bagian kota ini adalah juga bagian dari diri saya yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja. Segalanya, mulai dari udaranya yang kotor akibat polusi asap kendaraan, kemacetan yang membuat stres, gedung-gedung pencakar langit yang pongah, bangunan-bangunan tua yang memohon untuk diperhatikan, bijaknya pendar lampu lalu lintas, para penjaja makanan yang mengejar sejumput kebahagiaan, mereka yang bersembunyi di balik kerah-kerah berdasi dan sepatu ber-hak tinggi, toko buku-toko buku impor dan dentuman musik, mahasiswa yang lantang membela nasib kaum yang bahkan tidak begitu mereka kenal, teriakan para kenek bus kota yang berlomba dengan suara tawa dan seruan mereka yang bersenang-senang di bawah gelimang lampu klub, aroma minuman keras yang bercampur dengan peluh, dan semua yang ada di sini, telah menjadi nafas dalam kehidupan saya sehari-hari.

Segalanya terasa sangat sulit tergantikan, walau saya tahu bahwa sangat mungkin saya akan menemukan yang lebih baik atau lebih cocok bagi saya di tempat lain. Namun Jakarta begitu sulit untuk ditinggalkan. Jakarta yang adiktif membuat saya terus-terusan mengalami siklus mulai dari terlena dan terpesona hingga saya berani berharap lebih, untuk kemudian merasa kecewa, memaki-maki dan sakit hati.

Lalu saya bertanya-tanya di dalam hati, mengapa menyayangi kota ini harus begitu rumit? Mengapa saya tidak dapat dengan mudah merasa berbunga-bunga dan menikmati saja apa yang ada? Apakah saya yang kurang bersyukur? Atau Jakarta memang bagai seorang kekasih yang sulit untuk dipahami?

Lalu saya kemudian teringat kata-kata Ramda yang bilang bahwa tidak semua hubungan sifatnya konstruktif dan sehat bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Memang mengherankan rasanya apabila kita berulang kali mengucapkan betapa kita mencintai dan menyayangi kota tempat tinggal kita ini, namun kita juga mengambil jalur Transjakarta, menerobos lampu merah saat jalanan sedang sepi dan tidak ada polisi, membayar calo saat ingin mengurus perpanjangan paspor, atau sekadar membuang sampah di sembarang tempat tanpa peduli sampah yang kita buang dapat kemudian berkontribusi terhadap terjadinya banjir.

Lalu saya kembali berpikir dan terdiam, selama ini kita, atau paling tidak, saya, bagaikan tidak menghiraukan hal-hal tersebut karena kita menganggap laku-laku tersebut merupakan sesuatu yang sudah terlalu wajar karena semua orang sudah melakukannya. Rasanya justru aneh bila kita tidak melakukannya dan memilih untuk menaati peraturan yang kita anggap menyulitkan diri kita. Tanpa kita peduli bagaimana dampaknya terhadap kota yang (katanya) kita cintai ini.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin saya menyayangi sesuatu sambil sekaligus juga merusaknya? Bagaimana saya bisa kemudian semena-mena menuntut kesejahteraan saya sendiri selama tinggal di kota ini tanpa saya berusaha memahami dan mengenal seperti apa sebenarnya kota yang telah memberi begitu banyak pelajaran kehidupan ini? Bagaimana mungkin saya bisa menyayangi sesuatu dengan cara selalu meminta tanpa berusaha untuk memberi, atau setidak-tidaknya, mengerti?

Jika di antara teman-teman yang lain ternyata juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan tentang kota ini, yah, mungkin kita harus mengakui bahwa kita harus belajar lagi soal bagaimana cara mencintai, dengan lebih baik. Jika kita memang seringkali berujar bahwa kita begitu menyayangi ibukota ini, tidak ada salahnya toh sedikit lebih peduli, dan mau berkompromi?

– D! –

One comment

  1. Keven

    Gua pernah magang 4 bulan di Jakarta, dan yeah, gua sih ga betah, karena menurut gua kampung halaman gua, Bandung, jauh lebih baik dari Jakarta (walaupun sekarang tiap weekend selalu diinvasi oleh Jakarta, dan jadi macet total)

    Tapi ya gua ngerti perasaan lu, seburuk apapun suatu kota, setelah tinggal di kota itu untuk sekian lama, akan tercipta suatu koneksi batin, empati

    Yah gua berharap untuk ke depannya Jakarta bisa terus maju dan membuktikan bahwa ia memang pantas disebut sebagai ibukota negara =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s