Menunggu

Siapa yang tidak setuju bahwa menunggu adalah pekerjaan paling menyebalkan yang bisa kita lakukan?

Saya yakin sebagian besar dari kita  pernah merasakan kekesalan selama menunggu. Setidak-tidaknya, kita pernah satu dua kali mengeluhkan soal menunggu di akun media sosial kita. Entah menunggu bel pulang sekolah berbunyi, menunggu datangnya kendaraan umum, menunggu kabar dari bos atau dosen, menunggu tanggal 25 setiap bulannya, menunggu balasan pesan dari yang tercinta, menunggu hujan reda; hingga menunggu sesuatu yang terkadang seolah tidak akan pernah datang, seperti jodoh,  atau hari dimana Jakarta terbebas dari kemacetan, misalnya.

Menunggu identik dengan kebosanan, dan menuntut pula kesabaran.

Selama ini saya sendiri terbiasa berpikir bahwa menunggu merupakan suatu keadaan idle, dimana kita ‘terpaksa’ harus berdiam diri tanpa bisa melakukan apa-apa. Kalaupun saya melakukan sesuatu yang lain selama menunggu, rasanya pikiran ini tidak tenang karena tahu bahwa yang sedang saya lakukan bukanlah sesuatu yang menjadi fokus saya saat itu. Rasanya tidak tenang karena tahu saya punya jadwal setumpuk yang harus dilakukan setelahnya kegiatan menunggu saya selesai. Oleh sebab itu apapun yang saya lakukan saat saya sedang menunggu tidak pernah benar-benar saya nikmati, kecuali bila saya menunggu sambil bengong.

Akhir-akhir ini saya seperti dipaksa untuk belajar bahwa menunggu bukanlah kegiatan idle, dan bahwa menunggu tidak sama artinya dengan menganggur atau berpangku tangan. Begitu banyak kejadian yang (menurut saya) sangat buruk dan mengejutkan terjadi pada saya, dan keluarga saya dalam dua bulan terakhir. Singkatnya, ayah saya terserang stroke sehingga beliau tidak dapat mengingat apapun dan penglihatannya terganggu. Beliau meninggalkan banyak sekali hutang dalam jumlah besar yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Mungkin merupakan akumulasi dari biaya perawatan almarhumah ibu saya, mungkin juga untuk kepentingan rumah tangga, mungkin untuk kepentingan sekolah saya, mungkin juga untuk yang lain. Sementara uang yang tersisa sama sekali tidak mencukupi, dan tidak ada yang tahu apakah ayah saya bisa sembuh lagi. Tidak perlu saya jelaskan lagi seperti apa keadaannya.

Kacau.

Saya rasa itu satu-satunya kata yang bisa menggambarkan situasinya.

Semuanya kacau.

Ada kemarahan yang tidak berkesudahan atas segala hal yang saya anggap tidak adil terjadi pada saya, ada rasa sedih yang tidak bisa saya sampaikan kepada orang lain, ada kelelahan luar biasa terhadap semuanya, ada ketakutan untuk terus berhadapan dengan kehidupan, ada kesepian karena tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa diandalkan, dan tidak terelakkan lagi, kemudian hadir pula keputusasaan. Saat semuanya seolah menemui jalan buntu, saat saya benar-benar merasa sendirian. Di titik-titik tertentu, saya bangun pagi tanpa merasakan apa-apa dan menjalani hari seolah semuanya tidak ada artinya lagi.

Saat semua usaha yang dilakukan seolah tidak pernah cukup.

Di situ saya tidak mau melakukan semuanya lagi dan ingin ini semua berhenti. .

Dan lalu saya tersadar bahwa mungkin saya harus menunggu.

Sejak itu saya merasa bahwa menunggu tidak pernah sesibuk dan semelelahkan ini. Menunggu tidak lagi sebuah kegiatan membosankan tanpa melakukan apa-apa. Menunggu telah menjadi proses yang terjadi setiap harinya. Menunggu telah menjadi hidup itu sendiri.

Saya harus menunggu kapankah atau adakah kondisi ayah saya dapat membaik, saya kemudian harus menunggu waktu dimana satu persatu hutang dapat terlunasi, saya kemudian juga harus menunggu saat dimana saya bisa lulus dan memperoleh uang sendiri. Menunggu saat saya bisa tahu bagaimana cara mengatur waktu antara satu dengan lain, memilah perasaan, dan mengatur pula perkataan. Menunggu untuk mengerti arti sebenarnya dari keluarga. Menunggu untuk tahu apa yang disebut persahabatan. Menunggu saat dimana semuanya menjadi lebih baik, entah dalam bentuk yang seperti apa. Juga menunggu saat dimana mungkin suatu hari ada kesempatan untuk percaya bahwa mimpi-mimpi saya tidak hilang begitu saja.

Saya harus menunggu, mungkin bukan untuk menjadi lebih kuat. Mungkin bukan untuk menjadi lebih kaya. Bukan untuk dapat menyelesaikan semuanya. Bukan juga untuk kemudian menjadi pongah seolah tidak membutuhkan bantuan dari yang lainnya. Bukan juga untuk kemudian lupa bahwa ada Dia yang mengatur segalanya.

Mungkin saya menunggu saat saya jadi dewasa dan menjadi benar-benar menjadi manusia.

Sedikit saja lebih lama. Dari yang sudah ada.

– D! –

7 comments

  1. B

    terima kasih, tulisannya bagus.

    bagus sekali karna ditutup dengan “bahwa ada Dia yang mengatur segalanya”. beberapa orang yang saya kenal, berhenti mengenali kehadiran ‘Dia’ saat ada di masa-masa sulit. mungkin di awal masa-masa sulit mereka akan terus memanggil ‘Dia’, tapi saat lelah dan tak kunjung ada ‘jawaban’, menyerah dan lupa akan kehadiran ‘Dia’ sepertinya jadi hal yang masuk akal.

    saya bukan orang yg religius, saya bukan siapa-siapa, yang saya tau kita sepertinya seumuran, saya akhirnya mampir ke sini pun karna browsing sembarangan saja.

    jadi, terima kasih karna mengingatkan saya bahwa masih ada ‘Dia’. walaupun mungkin bukan itu point dari tulisan kamu, :)

  2. dheasekararum

    Halo B, terima kasih sudah mampir, walaupun mungkin hasil dari browsing iseng hehe.

    Kalau boleh jujur, saya sama sekali bukan orang yang religius. Saya bukan orang yang bisa ‘menyerahkan’ semua hal kepadaNya, karena saya terbiasa menganalisis segalanya. Saya cenderung skeptis karena terbiasa terlatih lewat perkuliahan saya, untuk berpikir secara ilmiah.

    Dengan kejadian ini saya semacam tersadarkan bahwa terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kita tanggung sendirian, dan bantuan orang pun tidak selamanya bisa kita andalkan. Ada saat-saatnya saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya lakukan untuk merasa lebih baik, karena semua yang biasanya menghibur saya tiba-tiba tidak ada rasanya lagi. Saat itu saya benar-benar merasa sangat kesepian. Padahal saya punya teman-teman, saudara, dan pacar yang bersedia membantu saya dengan segala cara yang bisa mereka lakukan.

    Pada saat seperti ini lah saya tidak punya pilihan lain selain berpaling kepadaNya, dan mau tidak mau mengintrospeksi diri, dan mungkin harus mengakui bahwa saya terlalu pongah selama ini.

  3. Anhar Dana Dajju Putra

    Saat yang paling dekat dengan jalan keluar adalah saat putus asa, karena sesungguhnya saat itu kita berada sangat dekat dengan Dia.
    Seperti halnya kamu, saya pun menunggu, menunggu ceritamu yang berakhir baik setelah cerita ini. Amin.
    :’)

  4. Pingback: Meredefinisikan Mimpi (A Long Post) « Peace of Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s