“Tolong”

Kita mungkin sudah sering mendengarkan begitu banyak orang yang menganjurkan dan mengimbau kita untuk senantiasa memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, baik dengan atau tanpa diminta terlebih dahulu. Sejak kecil kita dididik untuk peka dan membantu orang-orang di sekitar kita dan diberitahu lewat cara apa saja kita dapat memberi pertolongan hingga kita hapal mati di luar kepala apa yang harus kita lakukan, siapa saja orang yang sekiranya dapat dikategorikan sebagai mereka yang membutuhkan pertolongan, termasuk pula apa konsekuensi yang kita terima dari memberi pertolongan. Singkatnya, kita telah paham betul mengenai pentingnya memberi pertolongan kepada orang lain.

Walau demikian, sadarkah kita bahwa hal yang tidak kalah penting dari memberi pertolongan adalah meminta pertolongan?

Beberapa bulan terakhir saya memperoleh pelajaran yang luar biasa berharga tidak hanya mengenai memberi pertolongan, namun justru tentang meminta pertolongan.

Saya sadar betul bahwa meminta pertolongan dari orang lain membutuhkan keberanian. Sebagian besar orang justru tidak suka meminta pertolongan karena beranggapan bahwa meminta pertolongan berarti menunjukkan bahwa kita lemah dan tidak mampu mengatasi permasalahan kita sendiri. Dengan demikian, kita (paling tidak, saya) lebih memilih untuk berpegang pada kalimat “saya bisa melakukan semuanya sendiri”, padahal tidak selamanya hal tersebut berlaku demikan.

Selain karena tidak mau dianggap lemah, sebetulnya ada beberapa hal yang menyebabkan kegiatan meminta pertolongan dari orang lain menjadi sulit untuk dilakukan, yaitu (a) pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah orang yang menawarkan pertolongan tersebut tulus atau tidak, (b) bagaimana pandangan orang tersebut apabila saya meminta tolong kepadanya, dan terakhir, (c) pertolongan apa yang sebetulnya saya harapkan dari orang tersebut. Percayalah bahwa ketiganya merupakan hal yang sangat sulit untuk diatasi, paling tidak berdasarkan pengalaman saya dalam beberapa bulan belakangan.

Pikir saja begini, berapa kali dalam hidup teman-teman sekalian menawarkan pertolongan atau bantuan kepada teman atau kerabat yang mungkin kalian anggap sedang membutuhkan, dan ternyata tidak memperoleh tanggapan lebih lanjut dari mereka? Padahal kalian yang berusaha menawarkan bantuan/pertolongan akan merasa senang jika akhirnya orang yang kalian tawari tersebut betul-betul meminta pertolongan kalian.  Saya yakin, jawabannya cukup sering.

Sebaliknya, ketika teman-teman sekalian yang sedang dalam kondisi kesullitan dan membutuhkan pertolongan serta tidak memperoleh respon yang sesuai dengan yang teman-teman harapkan, apa yang teman-teman pikir saat itu? Kemungkinan besar jawabannya adalah teman-teman akan beranggapan orang-orang yang menawarkan bantuan/pertolongan hanya sekedar berbasa-basi dan tidak benar-benar tulus ingin membantu.

Siklus salah paham tak berkesudahan tersebut sepertinya terjadi pada saya (dan mungkin juga sebagian dari kalian).

Dampaknya?

Apabila saya sedang dalam posisi orang yang membutuhkan bantuan/pertolongan dari orang lain, saya akan merasa kesal dan putus asa. Seolah-olah tidak ada orang-orang yang benar-benar peduli dan betul-betul tulus ingin membantu saya. Saya merasa harus mengerjakan semuanya sendirian. Sementara itu, apabila saya sedang berada dalam posisi orang yang menawarkan bantuan/pertolongan, saya akan berpikir bahwa orang yang saya tawari tidak membutuhkan bantuan/pertolongan saya. Selain itu, saya akan merasa sangat tidak enak jika berulangkali menanyakan padanya dan tidak mau dianggap terlalu ikut campur permasalahan orang lain. Jika orang yang ingin memberikan pertolongan dan yang membutuhkan pertolongan memiliki hubungan yang cukup dekat atau penting– sahabat, pacar, kerabat, dan sebagainya—maka siklus salah paham ini akan menjadi sesuatu yang membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya menjadi frustrasi dan serba salah. Lama-kelamaan satu sama lain justru mengembangkan sikap apatis dan justru betul-betul menjadi cuek karena takut salah dalam bertindak dan tidak mau kecewa lebih lanjut karena ekspektasi mereka tidak terpenuhi.

Berdasarkan pengalaman tersebut, beberapa hal yang saya pelajari mengenai tolong-menolong adalah :

  1. Sebagian besar orang yang menawarkan bantuan/pertolongan betul-betul tulus. Mereka benar-benar ingin menolong. They mean it.
  2. Tanggung jawab untuk follow-up tawaran bantuan tersebut, sebetulnya terletak pada pihak yang membutuhkan pertolongan, bukan pada pihak yang menawarkan pertolongan.
  3. Cara yang paling ampuh untuk akhirnya membuat orang memberikan pertolongan sesuai dengan apa yang kita harapkan adalah dengan mengomunikasikan secara spesifik apa yang kita butuhkan.

Nomor 1 dan 2 saya sadari betul saat saya sedang dalam posisi menawarkan bantuan kepada orang lain. Saya betul-betul ingin menolong orang tersebut, namun saya sendiri takut untuk menanyakan lebih lanjut maupun mengecek ulang apa-apa saja yang bisa saya bantu. Karena saya merasa kebingungan dan takut justru mengganggu orang yang hendak saya bantu, atau saya sendiri justru terlanjur disibukkan oleh kegiatan saya yang lain.

Sedangkan yang nomor 3, yang merupakan pelajaran terpenting saya dalam beberapa bulan terakhir. Teman dan kerabat saya bukan cenayang yang bisa membaca pikiran. Saya akhirnya sadar betul bahwa sayalah yang harus mengubah cara berkomunikasi saya dengan lebih asertif dan spesifik. Hal ini sangat membantu sehingga saya tidak perlu hidup dalam ekspektasi saya sendiri tanpa pernah menyampaikannya pada orang lain dan kemudian menjadi kecewa karena ekspektasi tersebut tidak terpenuhi.

Sejak saat itu saya belajar untuk meminta tolong secara spesifik. Mulai dari spesifik orang, spesifik jenis bantuan yang saya inginkan, dan tentu saja spesifik waktu. Sebagai contoh, daripada sekedar mengatakan, “Nanti tolongin gue ya pas Garage Sale”, saya belajar bahwa lebih efektif untuk mengatakan, “Nanti pas Garage Sale hari Senin, gue bisa minta tolong lo nggak untuk angkatin rak baju yang akan dipajang nanti pas pagi sebelum mulai?”. Dengan demikian, tidak perlu lagi ada tenaga yang terbuang sia-sia untuk merasa kesal dan putus asa karena merasa tidak ada yang peduli terhadap saya dan tidak ada yang benar-benar mau membantu saya.

Pada prakteknya hal ini mungkin jauh lebih sulit daripada teorinya. Sebagian besar dari kita, termasuk saya, seringkali lebih memilih untuk bersikap pasif-agresif seperti menyindir secara halus dan mengatakan, “aduh gue tuh capek banget ngerjain semuanya sendirian, soalnya yang lain juga lagi sibuk kan” daripada langsung mengatakan apa yang kita butuhkan secara asertif dan spesifik. Saya sadar betul bahwa sebetulnya saya membantu dua pihak dengan berkomunikasi secara asertif. Pertama, tentu saja saya membantu diri saya sendiri untuk meringankan beban dan menghilangkan waktu dan tenaga yang terbuang secara sia-sia. Dan kedua, saya membantu teman-teman saya yang sebetulnya sangat baik hati dan sudah ingin membantu saya namun tidak tahu harus berbuat apa. Dengan demikian, mereka tidak lagi merasa tidak berguna bagi saya. Bahkan saya sendiri terkejut mengetahui fakta bahwa teman-teman saya merasa sangat lega dan senang dapat membantu saya.

Sejak itu saya baru benar-benar belajar bahwa lingkungan tidak akan berubah, kecuali kita mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu.

 

 It is not the shoes adapting with your feet.

It is the other way around.

-D!-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s