“Saya Calon Psikolog, Bukan Pembaca Pikiran” –Bicara Soal Profesi Psikolog

Sebagian besar teman dan kenalan saya begitu mendengar saya melanjutkan pendidikan sebagai calon psikolog Klinis Dewasa biasanya akan langsung bertanya, “berarti kamu bisa ‘baca’ pikiran saya dong?’ atau “berarti kamu bisa ngetes saya dong pakai gambar atau tulisan untuk tahu kepribadian saya?” dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenis. Jawaban saya biasanya adalah, “nggak. Saya nggak bisa baca pikiran kamu karena saya bukan dukun” dan tentu saja Psikolog tidak sama artinya dengan ‘tukang ngetes’. Atau paling tidak, tidak hanya itu. Bahkan, tidak jarang juga saya dianggap hanya mengurusi orang-orang yang ‘gila’ (atau bahasa kerennya, mengalami skizofrenia) seolah-olah gila dan tidak gila adalah dua buah titik ekstrem yang saling berbeda satu sama lain, seperti hitam dan putih.

Tidak banyak yang tahu bahwa yang bisa dilakukan oleh psikolog sangat banyak sekali dalam konteks membantu orang lain. Tidak hanya duduk di ruang konseling dan melakukan terapi-terapi seperti yang ada di bayangan sebagian besar orang, dimana psikolog akan duduk sementara klien ditidurkan di sofa panjang. Psikolog klinis, khususnya, memang dibekali dengan kemampuan untuk mengajak orang (atau klien) ‘berdiskusi’ dalam sesi-sesi konseling dan berbagai teknik terapi mengenai permasalahan-permasalahan mereka untuk kemudian bersama-sama mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Tidak jarang pula psikolog akan membutuhkan data penunjang dari klien, seperti riwayat hidup mereka, bagaimana pola komunikasi mereka selama ini dengan orang-orang terdekat atau dalam berbagai konteks, bagaimana perasaan-perasaan mereka, dan lain sebagainya. Alat tes psikologis seperti Rorschach atau tes grafis justru ‘hanya’ merupakan alat bantu bagi kami dalam menegakkan diagnosis.

Di luar ruang konseling, seorang psikolog klinis bisa berkiprah di banyak bidang lain yang tidak diketahui orang. Kami bisa bekerja di rumah sakit tidak sekedar untuk memberikan konseling dan terapi, namun kami juga bisa memberi penyuluhan dalam program-program health promotion. Kami juga bisa bekersama dengan LSM atau NGO dalam membuat program-program psikoedukasi terkait dengan permasalahan kesehatan mental khususnya. Kami juga bisa terjun langsung ke komunitas, atau masyarakat-masyarakat yang biasa disebut oleh banyak orang sebagai ‘masyarakat kampung dan tidak mampu’ untuk memberi pengertian mengenai kesehatan mental mereka sendiri, bekerja sama dengan kader puskesmas setempat. Kami bisa bekerja di dalam bidang hukum dan forensik, baik sebagai saksi ahli di pengadilan, memberikan penyuluhan maupun pelatihan bagi para napi, penguatan psikologis bagi para korban, dan lain sebagainya.

Kami juga bisa bekerja dalam bidang pemberdayaan wanita serta keluarga, terkait dengan penguatan psikologis bagi perempuan-perempuan korban KDRT, melakukan terapi keluarga, berdiskusi dengan mereka yang selama ini dikenal dengan wanita penghibur, dan lain sebagainya. Kami juga bisa duduk bersama dengan teman-teman yang mengalami ketergantungan napza beserta dengan keluarganya untuk membahas mengenai jalan keluar apa yang bisa dicapai untuk mengatasi permasalahan adiksi mereka. Tentu saja kami juga bekerja dengan teman-teman yang mengalami gangguan mental yang bisa dikategorikan ke dalam DSM IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual—buku acuan kami untuk menegakkan diagnosis berdasarkan kemundulan perilaku), misalnya saja Skizofrenia, dalam kasus ini tentu kami harus bekerja sama dengan psikiater atau dokter-dokter lain.

Banyak sekali yang bisa kami lakukan, dan sayangnya tidak dikenal oleh orang lain sehingga psikolog kerap kali dihindari. Seolah-olah pergi ke psikolog berarti kamu mengalami permasalahan mental yang bisa menggangu sampai 7 turunan. Padahal kami bisa saja membantu dalam hal penjurusan sekolah atau karir, membicarakan cita-cita dan langkah hidup (yang tentu saja setiap orang pernah mengalami masa-masa galau menyangkut hal ini), membicarakan mengenai bagaimana agar orang bisa menjadi lebih ‘supel’ atau bicara soal pasangan hidup, seperti proses pacaran dan pernikahan. Hal-hal tersebut adalah sesuatu yang umum dan menjadi persoalan sehari-hari bagi kita yang mengaku ‘normal’. Tidak jarang pula kami diminta sekedar membantu klien untuk mengenali siapa dirinya dan bagaimana asalnya dia sampai seperti itu. Dalam sesi-sesi diskusi dengan klien, seringkali kami temukan pula bahwa kami dibutuhkan ‘hanya sekedar’ sebagai pendengar. Iya, mendengarkan orang ngomong panjang lebar saja tentang segala sesuatu, curhat, atau katarsis, menurut bahasa yang bahasa yang banyak digunakan di psikologi. Mendengarkan, sesuatu yang sederhana ya? Tapi herannya banyak orang di sekitar kita yang merasa tidak cukup didengarkan oleh orang-orang terdekatnya sehingga membutuhkan kami untuk membantunya.

Hal lain yang sering membuat salah kaprah adalah, pergi ke psikolog berarti masalah kamu langsung selesai dan hilang begitu saja. Instan, seperti yang kita semua mau di jaman sekarang ini. Padahal tidak demikian adanya. Pergi ke psikolog bukan berarti meminta psikolog tersebut menyelesaikan atau menghilangkan permasalahan kita. Psikolog adalah profesi membantu, jadi tugasnya memang ‘sekedar’ membantu klien. Hal yang terpenting bagi psikolog justru membuat kliennya menjadi berdaya dan mandiri, sehingga nantinya tidak perlu datang lagi ke psikolog untuk menyelesaikan permasalahannya karena bisa menyelesaikannya sendiri. Psikolog sebagai teman ngobrol umumnya justru mengajak kita berpikir lebih lanjut mengenai diri kita dan kehidupan yang selama ini kita jalani. Psikolog akan mengajak klien berdiskusi mengenai alternatif-alternatif pemecahan masalah dan tidak jarang justru membuat klien ‘mau-tidak-mau’ belajar hal atau kemampuan baru yang dapat memperkaya dirinya agar nantinya tidak lagi memerlukan pertolongan profesional.

Jadi agak menyebalkan bagi kliennya memang kalau klien ingin mendapat solusi yang cepat dan instan.

Meskipun demikian, semua itu kembali lagi pada pilihan klien. Prinsip utama kami, psikolog sebagai profesi membantu, adalah memberikan pilihan kepada klien. Bila klien ingin permasalahan selesai secara instan, mungkin kami bisa bantu, tapi berarti klien tidak dibekali kemampuan-kemampuan baru untuk menyelesaikan masalah. Pada dasarnya psikolog juga tidak boleh memaksakan kehendak karena dia melihat adanya potensi-potensi dari klien yang dapat lebih ia kembangkan lalu ‘meminta’ klien tersebut duduk berlama-lama dengannya, sedangkan klien tersebut sebetulnya sudah merasa cukup terbantu. Terkadang psikolog justru harus sadar diri untuk tidak terlalu mengurusi kehidupan orang lain.

Sebagai psikolog, kami tidak bisa serta-merta memaksakan apa yang sudah kami pelajari lewat teori-teori Barat di bangku sekolah untuk semua kami aplikasikan kepada klien, dengan alasan agar kualitas hidup klien menjadi lebih baik. Klien dewasa khususnya, memiliki hidup dan keputusan-keputusannya sendiri. Apabila ia merasa sudah cukup terbantu, psikolog tidak boleh memaksakan apa yang menjadi idealisme keilmuannya untuk kemudian meminta klien melakukan bermacam terapi lain demi meningkatkan kualitas hidupnya. Sebagai praktisi, seorang psikolog pada dasarnya dituntut cukup bijak untuk menahan diri dan menyadari bahwa klien punya pilihan yang menurutnya terbaik untuk dirinya sendiri. Psikolog bisa memaparkan dan menawarkan terapi-terapi lain atau serangkaian proses lain untuk membantu klien lebih lanjut sesuai dengan kaidah scientific dan rasional, namun keputusan tetap ada di tangan klien.

Psikolog tidak bertanggung jawab terhadap seluruh kehidupan kliennya.  Lagipula, teori-teori Barat yang rasional tidak serta merta dapat diterapkan untuk membantu masayarakat Indonesia yang menjadi klien kami. Sebagian besar permasalahan yang kami temui di lapangan menuntut kami untuk terus belajar lebih banyak mengenai perbedaan budaya dan nilai-nilai. Sejauh mana kami sebagai psikolog mau terus belajar dan berempati terhadap konteks lingkungan klien. Apalagi kondisi klien di Indonesia sebagian besar memiliki status sosial ekonomi menengah (ke bawah) dan kurang memperoleh pendidikan yang merata.

Apakah lantas seorang psikolog harus menerapkan seluruh teori Barat yang rasional tersebut di dalam konteks masyarakat kita yang seperti ini? Semua kembali lagi kepada kebijaksanaan judgment psikolog itu sendiri, dan ingat pada tujuan awal profesi ini, apakah hal tersebut bisa benar-benar membuat orang lain merasa terbantu?

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang ke-59. Terima kasih telah menjadi tempat saya berkesempatan belajar tentang diri saya sendiri, belajar berempati dengan kondisi orang lain, dan belajar menemukan passion saya.

 Semoga teman-teman yang sering bertanya-tanya tentang profesi psikolog bisa sedikit mendapat gambaran dari tulisan ini.

Cheers : )

–          D! –

15 comments

  1. juno

    persepsi orang banyak ke psikolog mirip banget seperti persepsi orang dulu ke dokter.. bedanya, dulu dokter dianggap setengah dewa sedangkan psikolog adalah cenayang hehe..
    ga bakal cepet persepsi orang berubah, kecuali kita juga yang mempopulerkan proper conduct dari profesi kita masing2..
    goodluck ya ibu psikolog, ga semua orang bisa jadi psikolog lho:)

    • dheasekararum

      Thank you, Pak Dokter :D

      Setuju banget bahwa kita sendiri yang harus mempopulerkan dan mengedukasi orang ttg proper conduct dari profesi masing2. Plus, mengedukasi ke profesi lain juga, supaya terjadi kolaborasi yang bisa semakin membantu masyarakat lebih baik lagi :)

  2. Cahya

    Ah iya, saya juga pegang DSM IV – tapi ndak pernah bisa baca pikiran orang, bahkan sering ndak paham dengan pemikiran sendiri :).

    Semoga Mbak Dhea bisa jadi psikolog seperti yang diimpikan :).

    • dheasekararum

      Ah, Pak Dokter yang satu lagi juga berkomentar hihi
      Bahkan psikolog atau psikiater terhebat pun belum tentu selalu aware dan paham tentang pikiran dan persoalannya sendiri sepertinya :)

      • Cahya

        Mungkin kita “aware”, namun masih “afraid” untuk melihat sendiri. Kita lebih suka diperlihatkan oleh orang lain :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s