Prostitusi dan Kita

Menonton video The Girl Effect mengingatkan saya pada salah satu klien saya selama menjalani program praktek institusi di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya. Panti milik Kementrian Sosial ini memang merupakan salah satu tempat rehabilitasi dan pembinaan bagi perempuan-perempuan yang terlibat dalam prostitusi dan terjaring oleh razia Satpol PP.

Klien saya, sebut saja F, dan mungkin juga sebagian besar perempuan yang mengikuti (atau mungkin lebih tepatnya, terjaring) program rehabilitasi di panti tersebut masih berusia kurang dari 18 tahun. Ia lahir dari keluarga yang tidak berkecukupan. Saat ini ia sudah memiliki seorang anak perempuan berusia 2 tahun yang diperolehnya dari perkawinannya yang kedua dengan seorang laki-laki yang usianya lebih tua 10 tahun dari dirinya. Ia pertama kali menikah di usia 14 tahun, karena kepergok melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan kekasihnya. Pernikahan tersebut hanya bertahan 2 minggu, karena hanya dianggap sebagai ritual ‘buang sial’. Tidak lama, ia kemudian menikah lagi hingga sekarang, meskipun kehidupan perkawinannya pun tidak bisa dibilang baik-baik saja.

Jujur saat saya pertama kali mengetahui bahwa saya akan ditugaskan untuk menjalani praktek di institusi rehabilitasi untuk mereka yang biasa disebut sebagai ‘wanita tuna susila’ saya agak bergidik juga membayangkan seperti apa rasanya berinteraksi dengan mereka. Saya sudah cukup banyak mendengar bahwa mereka yang terlibat dalam prostitusi adalah perempuan-perempuan yang senang menggoda laki-laki dan senang mencari kepuasan seksual, terlebih lagi harta. Tidak sedikit pula mereka disebut-sebut sebagai perempuan-perempuan berdosa dan tidak kenal agama. Sedikit banyak saya mendengar juga bahwa mereka berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan sehingga mereka kemudian memilih untuk mengambil jalan ini. Saya juga diperingatkan untuk berhati-hati karena sebagian besar dari mereka manipulatif dan terbiasa merayu untuk memperoleh apa yang mereka mau.

Pada kenyataannya, saat berhadapan langsung dengan mereka, persepsi saya sedikit banyak berubah. Sesuai dengan apa yang digambarkan dalam video The Girl Effect, sebagian besar dari mereka adalah anak perempuan yang terlahir dari keluarga yang tidak berkecukupan sehingga sangat sedikit yang punya kesempatan untuk menempuh pendidikan hingga tingkat SMA. Sebagian besar berhenti hanya sampai tingkat SMP, dan itu pun tidak selesai.

Sebagian besar dari mereka tidak punya kesempatan untuk mengenal apa itu kasih sayang orangtua dan apa itu pendidikan moral. Yang mereka tahu sejak kecil hanya bagaimana mereka harus membantu orangtua mereka memperoleh uang. Tidak jarang mereka memahami bentuk kasih sayang dan perhatian orangtua sebagai barang-barang atau materi yang diberikan oleh orangtua dengan ala kadarnya. Pelajaran agama yang mereka terima pun hanya perkara doktrin pahala dan dosa dan ritual ibadah yang harus mereka lakukan sehari-hari, tanpa pemahaman lebih jauh mengenai esensi dari agama itu sendiri.

Tidak mengenyam pendidikan dan tidak mengenal diri mereka sendiri dengan baik, demikian sebagian besar dari mereka kemudian tumbuh sebagai perempuan muda. Mereka tidak paham mengenai kompleksnya nilai keberhargaan diri, terlebih aktualisasi diri. Mungkin satu-satunya hal yang mereka pahami hanya memperoleh uang untuk makan. Tidak untuk berencana membangun kehidupan yang lebih baik. Bagi mereka yang ‘hanya’ untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja sulit terpenuhi, membuat perencanaan masa depan demi hidup yang lebih baik adalah hal yang sangat asing.

Sebagian mengakui bahwa mereka pernah mencoba bekerja sebagai asisten rumah tangga dan beberapa pekerjaan lain, namun terlibat dalam prostitusi telah memberikan mereka pemenuhan kebutuhan finansial dengan cara yang paling mudah. Terlebih lagi, lingkungan sekitar mereka juga sangat mendukung mereka untuk terpapar pada praktek-praktek serupa. Dengan demikian, mereka yang juga tidak cukup tahu bahwa mereka punya pilihan lain kemudian ‘memutuskan’ untuk menjalani pekerjaan tersebut.

Uniknya, pada beberapa kasus terdapat perasaan-peraan mengenai keberhargaan diri yang mereka peroleh dari laki-laki yang menginginkan tubuh mereka sebagai pemuas kebutuhan seksual. Rasa keberhargaan diri yang tidak mereka kenal sebelumnya, yang tidak pernah mereka peroleh dari orang-orang terdekat mereka. Dari  situ mereka belajar bagaimana cara merayu laki-laki untuk memperoleh rasa keberhargaan diri dan pengakuan. Mereka juga kemudian memperoleh apa yang mereka mau, terutama uang dan baju-baju yang menurut mereka cantik.

Apa itu HIV Aids? Apa itu Penyakit Menular Seksual? Mereka tidak pernah tahu. Tahu pun hanya selentingan yang belum tentu benar dari teman-teman sesama pekerja seksual. Beberapa bahkan tidak paham mengenai penggunaan kondom atau alat kontrasepsi lain. Persoalan seksualitas adalah hal yang tabu untuk dibicarakan sejak kecil, dengan demikian pengetahuan mengenai tubuh mereka sendiri pun tidak pernah mereka peroleh. Mereka tidak paham betul apa yang mereka lakukan dapat membahayakan diri mereka sendiri, dan mungkin juga keturunan mereka. Karena mereka tidak butuh paham, pikirnya. Mereka tidak pernah berpikir mengenai akibat jangka panjang, karena yang mereka tahu hanya bagaimana kehidupan hari ini, esok hari pun masih menjadi angan-angan buat mereka.

Dengan kebiasaan untuk hidup tanpa perencanaan, tanpa tahu bahwa mereka masih punya pilihan, akibatnya mereka pun terlena. Sedikit saja yang masih mau belajar ketrampilan baru demi mengubah nasib. Namun belajar ketrampilan baru pun tidak cukup. Saat mereka keluar dari tempat rehabilitasi, mereka akan kembali pada lingkungan asal mereka, dimana semua akar permasalahan bermula. Mereka akan kembali berhadapan dengan suami-suami mereka yang kasar dan tidak bertanggung jawab, kembali pada hutang-hutang yang membelit, anak-anak yang menangis minta diberi makan, dan teman-teman yang akan kembali mengajak mereka kembali ke tempat prostitusi.

Belum lagi masyarakat yang masih menganggap bahwa mereka adalah penyakit-penyakit kotor yang harus dijauhi, jika tidak dimusnahkan, tanpa berusaha memahami latar belakang mereka. Akibatnya, tabu tetap menjadi tabu tanpa kita pernah mau untuk tahu. Di sini kemudian permasalahan tidak lagi menjadi persoalan individu, namun harus dilihat dari seluruh konteksnya. Di mana tentu saja di dalamnya ada kita.

Saya sendiri kemudian tersadar, jika saya tidak mau peduli, maka sama saja dengan sayalah yang telah menjadikan mereka wanita tuna susila.

Lalu bagaimana?

Semua kemudian kembali pada kita.

Apakah kita cukup peduli untuk mau mengenal mereka?

– D! –

5 comments

  1. Cahya

    Mungkin karena tidak ada orang yang benar-benar memiliki solusi, ketika mereka sendiri masih menghadapi banyak masalah, sehingga memalingkan perhatian akan menjadi solusi mereka tersendiri untuk menghindari kepekaan terhadap masalah-masalah sosial.

  2. Inayah Agustin

    naaahh!! good question on your last sentence neng. even gue jujur juga malas dgn kasus beginian (alias ga interest). zzzz well ya simply karena apapun yang bersentuhan dengan masalah ekonomi, is just like wased.. y’know what i mean rite

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s