Meredefinisikan Mimpi (A Long Post)

The Half and Half Man

“I wrote this book for my five-year-old self. Isn’t that a bit sad, you might ask, giving something to yourself that took 17 years to afford? And I can’t argue with that. It is sad. But this is a sad book. Don’t get fooled by the cheery cutesy graphics. This is a really sad book – not sad in the way people dying is sad, but sad in the way a kiwi never learning how to fly is sad. You see, it’s about how life is all to do with compromise. When you’re born, you compromise on being someplace better. You arrive with these dreams and wishes and ambitions that slowly crack at the edges as reality shows up and you have to grow up to grow up. You have to take care of your mom and dad, you have to make time for family, you have to do this and that, and in the blink of an eye you’re no longer young and have more veins on your ankles than laugh lines on your face to show for it. I’m not saying this because it’s a very bad thing. It’s not even a very good thing. What it is, is a very real thing. That’s why I wanted to give this book to me. Not just to me, but to all the dreamers in the world, to show them what can happen if they’re not careful with their dreams, to get them to get their game faces on to fight for their corner of the world. It is a sad and short life we are given, and dreams aren’t always kind to timelines.”

*this is a long post and you have been warned*

Beberapa minggu yang lalu, Ramda memberi saya link buku cerita bergambar yang ditulis (dan digambar) oleh  Jonathan Chan . Seperti yang tertulis di atas, buku ini bercerita tentang bagaimana hidup dipenuhi dengan kompromi. Buku ini bercerita bahwa pada saat-saat tertentu, seiring dengan tumbuh dewasanya seseorang, seseorang harus berkompromi dan rela melepaskan mimpinya karena mimpi tersebut tidak lagi sesuai dengan kehidupan nyata yang harus ia jalani sehari-harinya. Secara umum, meskipun dipenuhi dengan grafis yang sangat indah dan penuh warna, ini adalah buku yang cukup sedih dan depresif.  Setidaknya buku ini bisa membuat teman-teman seusia saya yang mungkin sedang sibuk mencari kerja dan membangun hidup kemudian menjadi galau, apalagi mereka yang sudah  lebih dulu mengalami quarter life crisis (omong-omong, kalau ada yang tertarik mengenai isu ini bisa menghubungi teman saya Inayah Agustin yang kebetulan meneliti tentang isu tersebut untuk tesis-nya).

In one way or another, just like everybody else who’s now in their 20’s years of life, the book has caught me to think and evaluate how I have been living my life lately. 

Orang-orang yang kenal saya cukup dekat mungkin tahu betapa inginnya saya berkecimpung di dunia psikologi kesehatan dan berkontribusi di bidang pendidikan, entah dalam bentuk apa, tapi terakhir kali saya ingat saya masih ingin sekali menjadi dosen sekaligus praktisi. Awalnya, minat saya kepada dua sektor tersebut lebih banyak didasari oleh isu pribadi, sebagian dari pembaca mungkin sudah tahu bahwa ibu saya meninggal karena kanker payudara. Walau demikian, ketertarikan tersebut semakin tumbuh mengingat kedua hal tersebut merupakan kunci kualitas hidup individu, masyarakat, dan tentunya  bangsa. Lama kelamaan, rasanya saya semakin ingin memberikan apa yang saya bisa ke dalamnya agar keduanya menjadi lebih baik lagi. Terlebih setelah menjalani masa-masa praktek di institusi-institusi, saya semakin melihat bahwa  pelayanan dan fasilitas dalam dua sektor tersebut masih sangat kurang memadai. Saya bahkan bermimpi suatu hari membangun sebuah klinik dengan pelayanan kesehatan yang terintegrasi (terdiri dari dokter, ahli kesehatan masyarakat, ahli gizi, perawat, psikolog, dan sebagainya sehingga selain pelayanan kesehatan juga tersedia edukasi mengenai kesehatan bagi pasien dan caregiver-nya) dengan biaya jasa yang sangat minim bahkan gratis bagi mereka yang lebih membutuhkan.

Meskipun demikian, teman-teman saya mungkin juga sudah tahu bahwa saya harus memendam mimpi dan keinginan saya tersebut dalam-dalam sejak peristiwa ayah saya terkena serangan stroke. Sejak saat itu, saya sebagai anak pertama bertanggung jawab atas seluruh keperluan rumah tangga dan mengatur pemasukan. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, sama sekali tidak mudah mengatasi seluruh persoalan yang terjadi di rumah saya. Saya harus membayar hutang-hutang ayah, harus mencari tempat tinggal, harus membantu biaya sekolah adik-adik saya, harus membiayai kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus perawatan ayah saya, dan sebagainya, let alone get married and build a family with the man I love. Dan memang semuanya harus, karena dalam hal ini saya tidak punya pilihan. Tentunya untuk melakukan semua hal tersebut saya membutuhkan uang dalam jumlah yang (sangat) besar untuk ukuran anak seusia saya, dan kita sama-sama tahu, bekerja sebagai pengajar atau staf rumah sakit tidak bisa memberikan apa yang saya butuhkan saat ini. Ada kewajiban yang lebih penting dan perlu saya selesaikan terlebih dahulu.

 Terkait dengan hal tersebut, kira-kira dua minggu yang lalu sebuah e-mail masuk ke dalam inbox saya. Ternyata e-mail tersebut datang dari pembimbing skripsi saya. Beliau menginformasikan bahwa skripsi saya: Kualitas Hidup Penderita Kanker Payudara yang Telah Mengalami Mastektomi telah melalui proses peer-review untuk diterbitkan dalam jurnal Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya. Buat orang lain mungkin hal tersebut adalah hal kecil dan biasa, buat saya berita tersebut membuat hati saya terlonjak senang. Mengapa? Karena ini berarti kesempatan saya untuk menyampaikan apa yang saya tahu terkait dengan topik skripsi saya tersebut kepada audiens di luar kampus saya sendiri kemudian terbuka lebar. Selain itu, berhubung saya sudah lama ingin menjadi seorang dosen sekaligus praktisi di bidang psikologi kesehatan, tentu hal ini memberikan peluang lebih besar bagi saya untuk berkorespondensi dengan mereka yang mungkin memiliki minat serupa, dan tentu saja saya akan memperoleh kredit untuk penelitian saya dalam hal ini. Salah seorang reviewer juga sempat mengemukakan bahwa topik penelitian saya menarik dan belum cukup banyak yang meneliti hal tersebut sehingga bisa saja dikembangkan lebih lanjut.

Seiring pula dengan adanya berita tersebut, saya dapat kabar bahwa beberapa rumah sakit buka lowongan untuk psikolog. Selain itu, muncul pula program Pencerah Nusantara , sebuah gerakan yang mengajak para dokter, dokter gigi, perawat, psikolog dan pemerhati kesehatan masyarakat, untuk memberikan 1 tahun untuk ditempatkan di pusat pelayanan primer di berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan reorientasi peran layanan kesehatan primer. Singkatnya, seperti Indonesia Mengajar, namun bergerak di bidang Kesehatan. Pendaftaran program ini dibuka mulai 4 Mei 2012 dan akan berakhir tanggal 11 Juni 2012.

 Tentu saja saya merasa sangat excited, sekaligus juga sedih, dan mungkin juga marah.

Excited karena saya melihat semakin banyak kesempatan bagi seorang lulusan S2 profesi Psikologi Klinis seperti saya untuk berkecimpung di bidang kesehatan. Sekaligus juga sedih dan marah, karena saya harus menunda keterlibatan saya tersebut. Menunda entah sampai kapan, atau bahkan apakah akan ada lagi kesempatan serupa bagi saya di waktu-waktu yang mendatang.

Mungkin ini salah satu yang disebut sebagai berkompromi dengan hidup. Tentang bagaimana mimpi-mimpi kita belum tentu dapat terwujudkan semuanya. Serapi dan sesempurna apapun kita merancang dan mempersiapkannya. Mungkin juga ini waktu buat saya untuk kembali bertanya ke dalam diri saya, apakah mimpi itu buat saya.

Buat saya, sebuah mimpi hidup dan menjadi penting bagi kita karena mimpi tersebut punya makna.

Apa makna mimpi tersebut bagi saya?

Apakah saya benar-benar ingin membuat sistem pelayanan kesehatan dan pendidikan di negara saya menjadi lebih baik? Atau saya sebetulnya ingin memuaskan rasa ingin tahu saya (yang terus menggelegak dan saya harap tidak kunjung padam) mengenai proses meninggalnya ibu saya karena suatu penyakit kronis? Atau rasa ingin tahu saya terhadap kematian itu sendiri dan bagaimana kita mempersiapkannya? Apakah ini justru sebagai cara saya untuk melakukan kompensasi terhadap rasa bersalah saya terhadap ibu soal bagaimana saya tidak pernah cukup waktu untuk merawat dan memahami beliau ketika beliau masih ada (dan mungkin sekarang juga berkembang menjadi rasa bersalah terhadap ayah saya, berhubung beliau sekarang juga jatuh sakit)? Apakah ini wujud rasa marah saya karena saat ibu sakit saya merasa beliau tidak mendapatkan perawatan yang cukup baik, seperti apapun ayah saya berusaha?Apakah ini semata keinginan pribadi saya agar menginspirasi adik-adik saya sebagai panutannya? Atau jangan-jangan mimpi tersebut muncul sebagai cara untuk memperoleh kebanggaan diri, pemberi rasa iri pada orang lain?

Mungkin ini bukan waktu saya mewujudkan mimpi.

Mungkin ini waktu saya untuk memahami.

Mungkin ini waktu saya untuk kembali me-redefinisikan mimpi.

-D!-

3 comments

  1. Pingback: Pencerah Nusantara – Panggilan Bagi Tenaga dan Pemerhati Kesehatan untuk Bangsa | Bhyllabus
  2. Pingback: Psikologi dan Dunia Kesehatan (Un-Edited Version) « Peace of Mind
  3. Pingback: After 6 Months « Peace of Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s