Tagged: psychology

Di Balik Sanguinis, Phlegmatis, Koleris, dan Melankolis

Sebetulnya tulisan mengenai tipe ‘kepribadian’ sanguinis, phlegmatis, koleris dan melankolis ini merupakan kumpulan twit saya pada  tanggal 29 Juli 2012. Berawal dari kebingungan saya setiap kali ditanya mengenai empat tipe kepribadian tersebut oleh teman-teman yang memiliki latar belakang pendidikan non-psikologi. Selama 6 tahun kuliah, saya sebetulnya tidak pernah ‘ngeh’ dari mana asalnya tipe2 ‘kepribadian’ sanguinis, phlegmatis, koleris dan melankolis.

Di buku manapun yang saya pelajari pun sepertinya tidak membahas mengenai teori ini. Sebetulnya secara samar-samar saya ingat sempat disinggungnya mengenai teori ini saat mempelajari mata kuliah Sejarah Aliran Psikologi di semester pertama, namun demikian saya tidak ingat ada uraian yang cukup lengkap mengenai teori ini (atau jangan-jangan saya-lah yang tidak dapat memahami bahasa buku tersebut yang memang agak ‘njelimet’ dibandingkan bahasa buku teks lain selama saya berkuliah. Buku tersebut memang cuma bisa tertandingi oleh buku teks mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan dalam hal keruwetan bahasa).

Setelah saya membaca The Psychology Book, akhirnya saya tahu bahwa istilah 4 tipe kepribadian sanguin, phlegmatis, koleris, dan melankolis ternyata datang dari Claudius Galen, seorang filsuf sekaligus dokter yang hidup pada tahun 129-200 Masehi. Ide Galen untuk menjelaskan mengenai kepribadian manusia berangkat dari teori Yunani kuno tentang mekanisme tubuh berdasarkan distribusi cairan tubuh (humourism) yang dikemukakan seorang filsuf yang  juga cukup familiar namanya di buku teks mahasiswa psikologi, yaitu Empedocles. Apabila kita tarik mundur sedikit, kita akan tahu bahwa Empedocles pernah mengemukakan bahwa distribusi cairan tubuh kita merupakan representasi dari proporsi 4 elemen dasar (earth, air, fire, dan water) dalam tubuh. Memang terdengar agak absurd, namun orang-orang pada masa tersebut menerima teori yang berpendapat bahwa tubuh kita mengandung elemen-elemen dasar tersebut.

Namanya juga filsuf, apabila kita bayangkan di jaman tersebut kan kita tidak punya pedoman dalam menjelaskan fenomena alam. Ini justru cikal bakal munculnya pola berpikir ilmiah, dimana seseorang dapat berpendapat didasarkan argumentasi-argumentasi tertentu dan orang lain dapat membuktikan atau justru mengembangkan hipotesis orang tersebut lewat pencarian fakta. Hippocrates, yang juga lebih dikenal sebagai “Father of Medicine” melakukan hal ini, ia bahkan mengembangkan model medis dan anatomi dari teori Empedocles tersebut.

Berangkat dari teori tersebut, 200 tahun kemudian Galen mengemukakan bahwa ada hubungan langsung antara proporsi banyaknya cairan tubuh tertentu dengan aspek-aspek kepribadian manusia. Aspek kepribadian yang dimaksud misalnya seperti kecenderungan emosi dan tingkah laku kita dalam berbagai konteks peristiwa, atau ia sebut juga sebagai “temperamen”. Menurut Galen, kalau salah satu cairan tubuh (humour) porsinya lebih banyak dalam tubuh, maka salah satu tipe kepribadian juga akan tampil dominan pada orang tersebut.

Galen mengemukakan, orang Sanguinis adalah mereka yang punya kadar darah lebih banyak dalam tubuh[1] Orang dengan tipe kepribadian Sanguinis cenderung hangat (warm-hearted), ceria, optimis, PD, namun juga egois. Sedangkan orang Phlegmatis adalah mereka yang punya lebih banyak kadar lendir dalam tubuh[2]. Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung tenang, cool, rasional, dan konsisten namun juga lamban dan pemalu. Orang Koleris adalah mereka yang punya kadar cairan empedu lebih banyak dalam tubuh[3]. Karakteristik orang Koleris menurut Galen adalah bersemangat, antusias, enerjik, dan passionate. Terakhir, orang Melankolis adalah mereka yang punya kadar black bile lebih banyak dalam tubuh[4]. Orang dengan tipe kepribadian melankolis cenderung lebih mudah sedih dan depresi (mood-nya lebih gloomy), artistik dan puitis.

Dengan adanya pandangan dasar bahwa keseimbangan cairan tubuh mempengaruhi kepribadian manusia, maka Galen percaya permasalahan kepribadian/temperamental manusia bisa diatasi dengan pendekatan fisik, seperti diet dan latihan fisik yang tepat.Galen bahkan beberapa kali menangani orang yang datang dengan keluhan sebagai orang yang ‘terlalu egois’ dengan cara mengeluarkan sejumlah darah orang tersebutkarena menurut Galen, ‘egois’ adalah salah satu karakteristik tipe temperamen Sanguinis yang disebabkan oleh terlalu banyaknya kadar darah dalam tubuh. Cara Galen waktu itu adalah dengan memotong daging orang tersebut atau mengambil darahnya lewat pembuluh darah (sama seperti sekarang saat kita ambil darah untuk cek laboratorium).Pandangan ini bertahan di dunia kedokteran sampai masa Reinassance, hingga ditemukan ada lebih dari 200 kesalahan Galen dalam menyusun sistem anatomi.

Meskipun agak absurd dan error, pandangan Galen ini menjadi awal berkembangnya teori kepribadian dalam psikologi modern. Misalnya, tahun 1947, Hans Eysenck menyimpulkan bahwa aspek temperamen dalam kepribadian seseorang memang memiliki dasar biologis. Dari situ Eysenck kemudian mengembangkan trait kepribadianneuroticism dan extraversion. Walau pendekatan Galen dianggap pseudo-science, ilmu psikologi modern sepakat dengannya soal adanya hubungan antara masalah mental dengan fisik. Hingga kini, sebagian besar ilmuwan psikologi modern juga berpendapat bahwa gangguan psikologis atau kecenderungan kepribadian orang memiliki landasan biologis.

Dengan demikian, saya harap pembaca juga mengerti mengapa saya seringkali jadi agak bingung juga jika ditanya atau diminta untuk memberikan diagnosis mengenai ‘aku ini tipe sanguinis, melankolis, koleris, atau phlegmatis?’. Alasan saya:

  Pertama,  saya tidak mungkin membedah sang penanya terlebih dahulu untuk tahu mana cairan tubuh yang lebih dominan dalam  tubuh sang penanya.

  Kedua, dasar pandangannya mengenai keseimbangan cairan tubuh juga sudah kurang tepat dan dibuktikan oleh sains pada masa itu.

Ketiga, saya pribadi agak kurang sreg dengan pengelompokan kepribadian manusia jika tujuannya belum jelas. Saya khawatir nantinya saat sudah mengetahui kecenderungan kepribadian dengan sejumlah traits-nya malah membuat orang yang bersangkutan membatasi diri sendiri. Contohnya, saat orang mengetahui kecenderungan kepribadiannya adalah pencemas dan ekspresif dalam emosi, orang tersebut bisa saja membenarkan segala perilakunya yang mungkin mengganggu orang lain dalam lingkungannya atau justru menghambat dirinya untuk berkembang dengan alasan bahwa perilaku tersebut sudah merupakan “sifat dasarnya” sehingga ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lebih baik.

Oleh sebab itu, saya sebisa mungkin menghindari memberikan label atau diagnosis terhadap orang lain kalau nantinya malah jadi membatasi atau tidak membantu orang tersebut ;)

Demikian sharing saya tentang tipe ‘kepribadian’ sanguinis, koleris, phlegmatis, dan melankolis-nya. Semoga dapat memberikan tambahan materi belajar bagi kita semua :)

Sumber :

Collin, Catherine, dkk. 2012. The Psychology Book– Big Ideas Simply Explained. London : Dorling Kindersley Limited

http://heyinishanti.blogspot.com/

http://chirpstory.com/li/15116

http://en.wikipedia.org/wiki/Galen

PS : Terima kasih Teh Cune yang sudah merangkum twit-ku dan menyusunnya dengan rapi dalam blog-nya

———————————————————————————————————————————————————————-

[1] “Sanguin” berasal dari bahasa Latin “sanguineus” yang artinya “yang berhubungandengan darah”

[2] “Phlegm” berasal dari bahasa Yunani kuno “phlegma” yang artinya “cairan lembab dan dingin dalam tubuh”

[3] “Choler” berasal dari bahasa Latin “cholera” yang artinya “cairan kuning-hijau dihasilkan liver (cairan empedu)”

[4] “Melancholy” berasal dari bahasa Yunani “melas chole” yang artinya “cairan yang dihasilkan oleh ginjal”. (Maap ga nemu padanannya dalam bahasa Indonesia -S)

Psikologi dan Dunia Kesehatan (Un-Edited Version)

Teman-teman yang pernah baca post saya ini mungkin belum tahu memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang psikolog dalam dunia kesehatan. Tulisan kali ini mencoba untuk memberi gambaran untuk pembaca mengenai cabang ilmu psikologi kesehatan

Topik yang menjadi fokus dalam psikologi kesehatan

Selama ini kita terbiasa untuk menghubungkan perawatan kesehatan dengan dokter. Bila kita sedang sakit atau membutuhkan saran mengenai cara menjaga kesehatan, kita umumnya akan pergi ke dokter. Ternyata, selain dokter masih ada praktisi atau ahli dengan latar belakang bidang ilmu lain yang juga berperan penting dalam membantu kita merawat kesehatan agar tetap optimal. Praktisi kesehatan tersebut antara lain seperti perawat, ahli gizi, apoteker, dan tidak ketinggalan pula ahli dengan latar belakang bidang ilmu psikologi. Tidak percaya? Pernah dengar mengenai cabang ilmu psikologi kesehatan?

Pada artikel “Hati-hati Dengan Ahli Psikologi. Apakah Dia yang Kamu Butuhkan?” yang terbit pada 4 Mei 2012 lalu sempat dijelaskan dengan singkat mengenai cabang ilmu psikologi yang satu ini. Cabang ilmu psikologi kesehatan mempelajari tentang cara menjaga kesehatan dan proses yang terjadi saat individu menghadapi kondisi kesehatan tertentu. Bagaimana sebetulnya peran praktisi psikologi kesehatan dalam bekerjasama dengan praktisi kesehatan dari bidang ilmu lain?

Fokus pekerjaan praktisi psikologi kesehatan saling beririsan dengan bidang ilmu kesehatan yang lain, misalnya saja dengan ilmu kedokteran, ilmu kesehatan masyarakat, juga ilmu keperawatan dan farmasi. Sejauh ini, pendekatan medis dengan dasar biologis memang telah menunjukkan manfaat yang sangat besar dalam dunia kesehatan manusia, misalnya berhasil menaklukkan penyakit endemik (cth: polio, TBC, malaria) atau mengembangkan antibiotik maupun vaksin-vaksin pencegah penyakit. Meskipun demikian, para praktisi kesehatan tidak dapat mengenyampingkan fakta bahwa di luar kecanggihan alat-alat kedokteran maupun perkembangan obat-obatan dan metode penanganan penyakit terbaru, faktor individu atau ke-khas-an dari “person” yang mengalami segala proses yang menyangkut perubahan status kesehatan mereka adalah penentu utama dari efektifnya penerapan metode maupun alat-alat canggih tersebut dalam meningkatkan kesehatan maupun kesejahteraan hidup manusia itu sendiri.

Bila kita perhatikan lebih lanjut sekitar kita, mungkin kita pernah bertanya-tanya mengapa terkadang terdapat dua orang dengan akses yang sama ke layanan kesehatan, namun salah satu diantaranya lebih sering jatuh sakit dibandingkan lainnya. Perbedaan diantara keduanya bisa saja terkait dengan riwayat kesehatan maupun faktor biomedis lain. Meskipun demikian, ternyata terdapat pula faktor-faktor psikologis yang seringkali luput dari perhatian kita. Faktor-faktor psikologis yang berhubungan dengan status kesehatan individu tersebut yang biasanya menjadi fokus dari para praktisi psikologi kesehatan. Beberapa faktor yang berhubungan erat dengan kondisi kesehatan antara lain seperti kecenderungan individu untuk memiliki gaya hidup tertentu (lifestyle) maupun memiliki kepribadian tertentu.

Praktisi psikologi kesehatan menaruh perhatian pada bagaimana gaya hidup tertentu dapat menjadi faktor risiko (risk factor) kemunculan suatu penyakit. Faktor risiko adalah karakteristik atau kondisi tertentu yang berhubungan dengan kemunculan suatu penyakit, namun belum tentu berperan sebagai penyebab langsung dari kemunculan penyakit tersebut. Meskipun faktor risiko bisa saja merupakan keadaan yang sifatnya genetis maupun biologis, gaya hidup bisa menjadi faktor psikologis (dan sosial) yang juga menjadi salah satu diantaranya. Sebagai contoh, perokok berat dan jarang berolahraga seringkali dihubungkan dengan sejumlah penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan stroke. Para praktisi psikologi kesehatan akan mencoba mencari tahu mengapa individu cenderung memilih untuk melakukan gaya hidup tertentu yang nantinya bisa mempengaruhi status kesehatan mereka dibandingkan gaya hidup lain.

Selain gaya hidup, penelitian-penelitian dalam psikologi kesehatan juga telah berhasil menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu berhuungan dengan kondisi kesehatan individu. Sebagai contoh, tipe kepribadian yang mencakup kecemasan yang tinggi, depresi, kemarahan dan kekerasan, atau pesimisme umumnya menjadi faktor risiko yang sering dihubungkan dengan penyakit jantung. Emosi-emosi yang muncul saat individu mengalami stres juga dapat menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan kondisi kesehatan mereka serta sejauh mana mereka berhasil pulih dari suatu penyakit. Hubungan antara kepribadian individu dan kondisi kesehatannya bukanlah hubungan sebab-akibat satu arah. Kondisi kesehatan individu juga dapat berpengaruh terhadap kepribadiannya, dimana individu yang mengalami penyakit bisa saja mengalami emosi negatif yang jika terus menerus terjadi tanpa penanganan bisa saja mengubah kepribadian individu tersebut, menjadi lebih pesimis atau justru menjadi seseorang yang lebih tangguh. Oleh sebab itu, peran praktisi psikologi kesehatan di sini sangat penting untuk membantu individu melakukan penyesuaian diri terhadap status kesehatannya berdasarkan cara yang paling efektif bila dilihat dari tipe kepribadiannya, misalnya saat membantu penyesuaian diri pasien stroke dan keluarga yang merawatnya.

Hal lain yang juga menjadi fokus para praktisi psikologi kesehatan adalah gejala-gejala penyakit medis yang muncul karena kondisi psikologis seseorang, atau umumnya dikenal dengan istilah ‘psikosomatis’. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh siapa saja, seperti saat kita merasa sakit perut yang tidak kunjung selesai walau tidak ditemukan adanya gangguan dalam fungsi pencernaan atau fungsi organ biologis lain. Ternyata setelah diamati lebih lanjut, saat itu kita sedang merasa sangat cemas akan suatu perubahan besar dalam hidup, misalnya seperti pernikahan, baru saja mengalami kehilangan, promosi jabatan dan sebagainya yang tanpa kita sadari dapat memunculkan gejala penyakit. Apabila sudah menjadi suatu bentuk gangguan, dalam DSM-IV TR (Diagnostic and Statistical Manual) kondisi ini dikelompokkan sebagai gangguan Somatoform.

Salah satu perspektif yang populer dalam psikologi kesehatan adalah biopsikologi, yang mengemukakan bahwa kesehatan atau kesejahteraan fisik individu saling berhubungan erat dengan kesejahteraan mentalnya. Berdasarkan hal tersebut, salah satu pelopor dalam Psikologi Kesehatan, Matarazzo, menggambarkan fungsi Psikologi Kesehatan sebagai kontribusi dari disiplin ilmu psikologi yang didasarkan pada pendekatan ilmiah dan profesional terhadap hal-hal berikut:

1)  Promosi gaya hidup sehat (health promotion), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu merancang program promosi maupun edukasi kesehatan yang sesuai bagi masyarakat, baik bagi para siswa maupun orang dewasa. Misalnya seperti kampanye anti rokok, atau kampanye pencegahan HIV Aids dengan menggunakan kondom bekerja sama dengan praktisi kesehatan dari bidang ilmu lain maupun pihak institusi seperti sekolah dan sebagainya. Bahkan praktisi yang bergerak di bidang psikologi kesehatan ini bisa membantu kita untuk menyusun pola hidup sehat yang mencakup diet dan membantu mengubah pola pikir kita soal diet tersebut. Tentunya  bekerja sama dengan praktisi kesehatan lain seperti ahli gizi.

2)   Pencegahan dan perawatan terhadap penyakit, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu menyusun program-program pencegahan maupun perawatan terhadap penyakit melalui pendekatan psikologis. Contohnya seperti memperkenalkan metode relaksasi dan pemecahan masalah untuk membantu pasien darah tinggi agar tidak terlalu tegang dalam menghadapi stres sehari-hari, membantu proses penyesuaian dan rehabilitasi bagi pasien stroke seperti menentukan kegiatan yang dapat dilakukan, bagaimana mengatur pola makan, membantu pasien dan keluarga untuk menyalurkan emosi negatif mereka, dan sebagainya

3)  Identifikasi penyebab kemunculan penyakit dan diagnosis kondisi kesehatan individu/disfungsi lain, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu praktisi kesehatan lain untuk menentukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan suatu penyakit dari sisi psikologis, seperti kepribadian pasien, gaya hidup, dan sebagainya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Praktisi psikologi kesehatan juga dapat membantu sejauh mana individu sesuai dengan metode perawatan tertentu

4)      Analisis dan peningkatan terhadap sistem perawatan kesehatan dan penyusunan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan industri kesehatan (health-policy), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu untuk menganalisis sejauh mana fasilitas perawatan kesehatan yang ada, seperti rumah sakit, puskesmas, anggota praktisi kesehatan, biaya perawatan, maupun sistem perawatan kesehatan yang ada dapat berfungsi secara optimal bagi proses perawatan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, praktisi psikologi kesehatan membantu memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan terkait kondisi psikologis individu terhadap praktisi kesehatan maupun kader puskesmas, dan sebagainya.

Setelah membaca artikel ini, sepakat bukan bahwa tidak hanya dokter saja yang bisa membantu kita dalam menangani masalah kesehatan? Sayangnya, di Indonesia sendiri belum terlalu banyak psikolog yang berkecimpung di bidang psikologi kesehatan ini.

Referensi:

Dimatteo, M.Robin. 1991. The Psychology of Health, Illness, and Medical Care—An Individual Perspective. Belmont, California: Brooks/Cole Publishing Company

Ogden, Jane. 2007. Health Psychology—A Textbook. New York: McGraw-Hill

Sarafino, Edward P. 2002. Health Psychology—Biopsychosocial Interactions (4th ed.). New York: John Wiley & Sons, Inc.

Gambar diambil dari sini

Minggu Pagi dengan Ceramah Agama dan KDRT

#30harimenulis, Day 8:

Pagi ini saya baru saja menyaksikan sebuah acara ceramah agama yang disampaikan oleh seorang ustad yang namanya sudah cukup tersohor di negeri kita ini. Selama mendengarkan ada satu kalimat beliau yang membuat saya merasa sangat-sangat prihatin. Beliau berkata,

seorang istri itu harus senantiasa mengenakan jubah sabar-nya, istri adalah pusat keluarga. Seorang istri harus begitu sabarnya dan tawakkal kepada Allah SWT. Suami mau melakukan apapun terhadapnya, janganlah mengadu kepada orang lain, mengadulah hanya kepada Allah SWT semata. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Menolong Hamba-Nya”

Rasanya sedih banget mendengar hal ini disampaikan oleh seorang ustad yang memiliki jemaat ribuan orang. Kenapa? Karena, jika orang mentah-mentah menelan apa yang beliau sampaikan, istri-istri di luar sana pasti akan percaya bahwa seperti apapun (dan yang mereka tangkap di sini benar-benar APAPUN) perlakuan suami terhadap mereka, mereka tidak diperkenankan menceritakannya terhadap orang lain. Oke, berhenti di sini. Pertanyaan saya, bagaimana jika suaminya melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dapat membahayakan diri si istri? Apakah lantas istri tidak boleh membiarkan orang lain, bahkan pihak keluarganya, mengetahui hal ini? Ke mana perginya hak-hak asasi sebagai istri?

Sejauh ini saya yakin tidak banyak yang tahu dengan apa yang dimaksud dengan KDRT itu sendiri. Definisi kekerasan dalam rumah tangga (menurut UU No.23/2004 pasal 1, dalam Poerwandari & Lianawati, 2010) adalah, setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Kekerasan dalam rumah tangga juga menyangkut kekerasan fisik, psikis, seksual, atau penelantaran rumah tangga. Untuk kekerasan fisik, mungkin sudah banyak yang mengerti seperti apa bentuknya, namun tidak dengan kekerasan psikis. Definisi kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7 UU No.23/2004). Hal ini bisa mencakup juga mengatakan kata-kata kasar yang menyakiti hati pasangan, mempermalukan pasangan di hadapan orang lain, dan sebagainya. Sedangkan kekerasan seksual, sesuai dengan UU No.23/2004 pasal 8, meliputi a) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga, dan b) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.

Dengan ketiadaan pengetahuan mengenai hak-hak baik pihak istri maupun suami dalam sebuah bentuk institusi perkawinan, maka baik pihak istri maupun suami seringkali tidak tahu apa yang harus mereka lakukan jika dihadapkan pada situasi seperti yang dijelaskan di atas. Ditambah lagi dengan adanya pemahaman sepotong-sepotong terhadap ceramah maupun imbauan-imbauan agama yang disampaikan di televisi maupun secara langsung. Di sini saya tidak menyalahkan ceramah agama ataupun pemuka agama manapun, namun yang saya khawatirkan adalah pemahaman orang-orang yang tidak menyeluruh terhadap apa yang disampaikan dalam ceramah tersebut yang bisa jadi merugikan, bahkan membahayakan keselamatan jiwa mereka sendiri. Belum lagi jika urusan ini tidak hanya muncul antara istri dan suami saja, namun anak yang, mau tidak mau, pasti dilibatkan.

Hal ini tentu menyulitkan pihak-pihak yang ingin membantu, salah satunya adalah psikolog. Walaupun saya pribadi belum pernah terjun ke lapangan langsung dan mendapatkan kasus-kasus KDRT, namun saya membayangkan betapa sulitnya mengubah pola pikir masyarakat kita mengenai hal-hal seperti ini, terutama jika hal-hal tersebut telah terkait dengan kepercayaan agama. Bukankah agama seharusnya mengajarkan kasih?   Lalu bagaimana jika ada kasus-kasus semacam ini? Mana yang terlebih dahulu harus ditangani, korban atau justru pelaku?

 

*Pagi-pagi udah puyeng mikirin beginian* :s

– D! –

Daftar Pustaka:

Poerwandari, Kristi & Ester Lianawati. (2010). Buku saku untuk penegak hukum, petunjuk penjabaran kekerasan psikis untuk menindaklanjuti laporan kasus KDRT. Depok: Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia


 

Term 2 : Autis

Beberapa di antara kita mungkin terbiasa untuk mendengar kata-kata ‘autis’ dipergunakan dalam perbincangan sehari-hari, umumnya ketika kita hendak bercanda atau memperolok teman kita yang terlihat terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri, sehingga tidak memedulikan teman yang lain, atau justru untuk menyebut seorang anak di kelas kita yang selalu terlihat menyendiri dan enggan bergaul dengan teman-teman sekelas yang lain. Kata ini seolah identik dengan makna ‘keterasingan/mengasingkan diri dari lingkungannya’, namun, apakah benar demikian makna sebenarnya?

Sebagian besar dari kita yang menggunakan kata-kata ‘autis’ sebetulnya mungkin sama sekali tidak pernah melihat seperti apa sesungguhnya autisme itu, apalagi berinteraksi langsung dengan orang-orang yang mengalami autisme. Saya sendiri juga belum pernah berinteraksi dengan mereka, walaupun sempat beberapa kali melihat langsung anak-anak dengan gangguan autisme yang ada di klinik kampus. Lalu apa sih sebenarnya autism itu? Autistic disorder pertama kali berhasil diidentifikasi pada tahun 1943 oleh seorang psikiater dari Harvard, Leo Kanner. Kemunculan autistic disorder biasanya dimulai sejak masih kecil, dimana anak-anak dengan autism memiliki karakteristik-karakteristik khusus terutama menyangkut interaksi dengan orang lain.

Ciri yang umumnya paling menonjol terlihat pada anak-anak dengan gangguan autisme adalah kesukaan mereka untuk menyendiri dan tidak terlibat dengan orang lain, termasuk juga kesulitan dalam membuat kontak dan berhubungan dengan orangtua mereka masing-masing. Anak-anak dengan gangguan autisme umumnya jarang sekali menunjukkan perilaku sosial, seperti menyapa orang lain, tersenyum, dan membuat kontak mata; selain itu mereka juga seringkali tidak merespon orang-orang yang mencoba membuat kontak dengan mereka. Bahkan, mereka pun merasa tidak nyaman ketika dipeluk oleh orangtua atau kerabat terdekatnya, mereka bisa berteriak-teriak dan menangis jika disentuh oleh orang lain (Kring, dkk., 2007).

Anak-anak dengan gangguan autisme juga mengalami gangguan dalam kemampuan berbahasa, dan sejak usia yang sangat dini kemampuan bahasanya akan terlihat sangat tertinggal bila dibandingkan dengan teman-teman sesusianya. Ciri unik dari anak-anak ini adalah mereka seringkali melakukan pengulangan dari kata-kata yang diucapkan oleh orang lain terhadap mereka, hal ini biasa disebut juga dengan echolalia, misalnya, ketika ditanya oleh orang “kamu mau kue ini nggak?” maka anak akan menjawab dengan, “kamu mau kue ini nggak?” tanpa mengetahui makna dari kalimat ini. Namun, anak-anak ini tahu bahwa kalimat tersebut berhubungan dengan cara untuk mendapatkan kue. Selain itu, ciri unik lainnya dalam berbahasa pada anak autis adalah, mereka seringkali merujuk diri mereka sendiri sebagai orang ketiga, misalnya,

Orangtua : kamu lagi ngapain Risa?

Anak : dia di sini

Atau

Orangtua : eh, kamu seneng nggak di sini?

Anak : (mengangguk) dia tahu kok

Yang tidak diketahui oleh orang pada umumnya adalah, walaupun ciri perilaku yang tampak pada anak-anak dengan gangguan autisme secara umum mencakup perilaku menyendiri ataupun kesulitan dalam berbahasa, namun sebetulnya, hal yang paling menghambat anak-anak tersebut untuk dapat berinteraksi dan membuat kontak sosial dengan orang lain seperti orang pada umumnya adalah ketidakmampuan mereka untuk memahami bahwa orang lain memiliki keyakinan, intensi, keinginan, hasrat, dan emosi yang berbeda dengan dirinya. Kemampuan yang biasa disebut juga sebagai theory of mind ini (Gopnik, Capps, & Meltzoff, 2000; Sigman, 1994; dalam Kring, dkk., 2007)) merupakan sesuatu yang sangat berguna dalam membentuk interaksi sosial yang berhasil. Singkatnya, anak-anak ini kesulitan untuk menumbuhkan empati mereka terhadap orang lain. Mereka tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain dan tidak memahami mengapa orang bereaksi tertentu untuk suatu kejadian. Pada anak-anak autistik ringan (high-functioning autism), kemampuan mereka hanya sejauh ‘mengenali’ emosi orang lain, namun mereka tidak pernah bisa memahami emosi tersebut (Capps, Yirmiya, & Sigma, dalam Kring, dkk. 2007). Anak-anak ini tidak memilih untuk bersikap cuek terhadap orang lain, namun pada dasarnya mereka memang tidak dapat mengerti mengapa kita peduli terhadap orang lain.

Anak-anak dengan gangguan autisme juga seringkali mencintai rutinitas dan bisa sangat marah jika ada sesuatu yang berubah dalam rutinitas dan lingkungan sehari-hari mereka, misalnya perubahan interior rumah, atau waktu makan yang bergeser. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk menujukkan perilaku yang berulang, misalnya mengepakkan tangan saat berjalan, berjalan dengan berjinjit, memutar-mutar jari di depan wajah, dan seringkali sangat terobsesi pada suatu benda mati yang memiliki gerakan berulang, seperti kipas angin, setrika; mereka kemudian sering tanpa sengaja menyakiti diri mereka sendiri karena perilaku ini. Misalnya, salah satu orangtua yang memiliki anak autis menceritakan bahwa karena ketertarikan anaknya terhadap setrika yang sedang ditinggalkan oleh asisten rumah tangganya dalam keadaan panas, anaknya kemudian meletakkan setrika tersebut di atas tangan mereka tanpa mereka tahu itu dapat menyakitinya hingga tangan anaknya melepuh kepanasan.

Seperti gangguan psikologis lainnya, autisme tidak dapat disembuhkan, namun terapi-terapi yang ada selama ini lebih berfokus untuk mengurangi tingkah laku yang tidak biasa pada anak-anak autis, juga berusaha untuk meningkatkan kemampuan sosial dan kemampuan berkomunikasi mereka. Terapi untuk anak-anak dengan gangguan autisme mencakup keseluruhan aspek kehidupan mereka, melibatkan pelatihan intensif pula bagi orangtua, guru, maupun pengasuh mereka, serta diberikan setiap hari sepanjang waktu-waktu mereka tidak tidur. Umumnya, terapi ini juga disertai pemberian obat-obatan yang dapat membantu mereka melakukan interaksi sosial. Mereka juga memiliki pantangan dalam soal makanan, misalnya, mereka tidak boleh makan terlalu banyak gula (berarti anak-anak itu tidak diperbolehkan makan-makanan manis seperti permen, es krim, dan kue), terlalu banyak protein hewan, dan makanan instant karena zat-zat yang terkandung di dalam jenis makanan-makanan ini dapat mempengaruhi struktur kimiawi otak anak-anak tersebut yang memang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Keseluruhan bentuk terapi ini biasanya diberikan kepada anak-anak dengan gangguan autisme untuk seumur hidup mereka.

Berdasarkan pemaparan di atas, mungkin kita bisa melihat bahwa kesulitan-kesulitan yang dialami oleh anak-anak dengan gangguan autistik ini tentu saja berkaitan pula dengan orangtua dan orang-orang terdekat mereka, mengingat usaha dan waktu yang mereka keluarkan dalam menjalani terapi-terapi tersebut bagi anak mereka terlihat tidak akan mudah dan pasti tidak murah. Lalu, bagaimana dengan sebutan ‘autis’ yang biasa digunakan sehari-hari secara umum?

Apakah mengetahui sedikit informasi mengenai gangguan autistik ini menjadi sebuah pertimbangan bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan kata-kata yang tidak begitu kita pahami artinya?

Bibliography :

Kring, et. al. 2007. Abnormal Psychology (10th edition). United States of America : John Wiley & Sons, Inc.

– D! –

Post Inter Major-Discussion

Teman : jadi kalau gue lihat-lihat psikologi ini ilmu yang ada di tengah-tengah ya. Kalian belajar soal kedokteran, sedikit soal obat-obatan, dan hal-hal biologis yang sifatnya evolusioner; tapi topik pembahasan kalian juga bersinggungan dengan sosiologi, antropologi, media, sampai ke bisnis. Di beberapa aspek kadang juga terlihat agak magis dan cenderung sangat superstitious. So, what exactly you guys do in psychology?

Saya : what we do?

Teman : iya, kalian tuh ngapain sehari-harinya? Belajar apa?

Saya : well, we make sense the common sense.

– D! –

– D! –