July 13, 2009

Social Sites’ Self Disclosure itu adiktif dan bisa jadi destruktif

Teman saya, Shanna, menuliskan kalimat ini sebagai salah satu postingan di page Tumblr-nya :

“I hate it when people share their relationship woes on Twitter”

Kalimat ini membuat saya berpikir, oh iya juga ya, akhir-akhir ini orang-orang (seenggaknya yang ada di sekitar saya) lagi hobi banget berbagi tentang hal-hal semacam ini di situs jejaring sosial yang mereka miliki, seperti di Twitter, Plurk, bahkan status Facebook. Sebetulnya saya sempet curiga, jangan-jangan tren ini memang sudah ada dari dulu, cuma sayanya aja yang cuek bebek, saya tidak tahu juga, yang jelas orang-orang di sekitar saya lagi huru hara banget tentang kehidupan percintaan mereka.

Mulai dari yang emosi berat sama mantannya, ada juga yang sakit hati karena peristiwa putus yang nggak baik-baik, yang emosi dan merasa ‘tergantung-gantung’ perasaannya oleh gebetan atau mantan gebetan,yang merasa sesak karena mantannya selalu ada di sekitarnya (ini tentang saya atau teman saya sih? haha), yang menjelek-jelekkan nama orang yang disamarkan tapi tetep aja ketauan siapa orangnya, juga sampai yang bikin lirik kesedihan hatinya segala.

Selain mengenai kesedihan, amarah, agresifitas terselubung tersebut, ternyata banyak juga yang lagi melankolis dan berbagi tentang percintaan dan kemesraan mereka di situs jejaring sosial. Mulai dari kata-kata manis manja, puisi-puisi rayuan maut, bahkan sampai ajakan jalan-jalan ke pacarnya juga ditulis di situs jejaring sosial.

Ada apa gerangan?

Menurut saya, ini fenomena yang sangat menarik. Saya disini nggak berbicara tentang curhatan yang dituliskan di blog atau notes masing-masing ya, saya lebih berbicara tentang situs jejaring sosial yang memberikan fasilitas kepada penggunanya untuk menuliskan aktivitas mereka dalam satu kalimat pendek, seperti Twitter, atau Plurk (oh iya, status Facebook juga, tapi bukan notes atau blog ya, ingat). Kalau sekedar berkeluh kesah atau marah marah sendiri sih itu masih nggak apa-apa. Saya cuma heran aja sama yang betul-betul menyebutkan nama atau ciri-ciri khas dari orang yang dibicarakan, sehingga mau nggak mau orangnya merasa tersindir (jika orang yang dimaksud memiliki account di situs jejaring yang sama).

Sebetulnya postingan-postingan semacam itu sengaja buat menyindir atau gimana, eh?

Saya sendiri bukannya nggak melakukan hal yang serupa, mungkin pernah juga beberapa kali, namun saya berusaha sebisa mungkin menyamarkan nama orang yang saya maksud, dan maksud saya bukan untuk menyindir, sekedar menuliskan saja. Karena saya sendiri juga pernah melakukan hal yang sama, maka saya berpikiran hal seperti ini bisa sangat adiktif.

Masalah mulai ketika orang yang melakukan hal tersebut sudah teradiksi terhadap kegiatan semacam itu dan akan bertambah runyam ketika kegiatan ini sudah mulai menjadi perang saling sindir menyindir dalam agresivitas yang terselubung. Hal semacam ini bukannya nggak mungkin terjadi loh, karena percaya deh, salah satu dari temen saya baru saja mengalaminya. Dampaknya? Buruk. Sekarang hubungan ‘pertemanan’ mereka menjadi tidak baik, jika boleh dikatakan buruk, di kehidupan nyata.

Belajar dari pengalaman tersebut, menurut saya sah-sah aja kalau orang ingin berbagi perasaan dan keluh kesahnya terhadap orang lain, jangan sampai lupa aja untuk menyaring siapa dan apa yang boleh disebutkan, dan apa-apa saja yang lebih baik disimpan dalam hati atau lebih baik disampaikan langsung ke orang yang bersangkutan. Karena kita nggak pernah tau siapa aja yang bisa mengakses curhatan, keluhan, atau umpatan kita melalui situs jejaring sosial kan? Yah, bukan berarti kemungkinan itu nggak bisa terjadi kalau kita curhat secara langsung ke orang lain saling berhadapan muka sih, karena yang namanya gosip pasti akan tetap jaya. Diminimalisir aja. Kecuali, kalau kita emang pingin banyak orang baca dan mengetahui masalah kita, untuk mendapatkan bantuan misalnya, bisa aja sih.

Asumsinya kita berkirim pesan untuk berkomunikasi dan bukan untuk menambah kerumitan masalah kan?

Apakah masing-masing dari kita sudah lupa caranya berkomunikasi secara langsung dan bicara baik-baik secara dewasa satu sama lain?

- D! -

July 12, 2009

about having faith

I cited this from one of my friend’s, Silmy Risman note :

” No matter how out of control, suffocating, and misreable situations get, just remember this :

There’s a reason why they call it happy endings.

So, if  it’s not happy, then it’s not the end YET.

Just have faith.

God never sleeps, and God KNOWS BEST.

picture taken from craneox.deviantart.com

picture taken from craneox.deviantart.com

I couldn’t agree more.

- D! -

June 29, 2009

about failure

I don’t have something particular in mind, just want to share random things. Yesterday I had coffee with my juniorhigh friends,  it was the four of us and we had this random chitchat about love, family, college activities, basically about life itself . I had a very great time. I also got this wisdom that

“Failure is something we need, to give ourselves time to learn more, and gain more”

I agree with it.

What about you?

- D! -

June 27, 2009

Akibat nekat.

eeng.

Saya udah lama banget nggak main-main ke blog punya temen-temen saya, bahkan saya juga nggak sesering itu buka blog saya sendiri, dan malam ini saya kepikiran untuk buka blog salah satu temen gara-gara threadnya dia di Plurk.com. Sebetulnya temen saya udah bilang blognya isinya lagi sedih, dan saya tetap nekat buka blognya.

Bener saja.

Saya emang cengeng.

Kalau dilihat-lihat saya udah lama banget nggak nulis curhatan saya di blog, saya bertanya-tanya kenapa?

Alasan pertama yang terlintas adalah karena saya tahu bahwa ‘ternyata’ yang baca blog saya cukup ‘ada’ (bukan ‘banyak’, cuma sekedar ‘ada’) dan saya nggak pingin beberapa diantara orang-orang tersebut tau bagaimana perasaan saya yang sebenernya tentang hal-hal yang terjadi di sekitar saya, nggak pengen aja, gengsi, malu, apapun itu namanya. Saya tidak mau dianggap ‘lemah’ atau ‘menyedihkan’ karena terus mengeluh tentang hal-hal yang menyedihkan. Alasan kedua adalah karena saya merasa nggak cukup pintar membuat kata-kata bagus menjadi sebuah tulisan yang berasal dari curhatan saya, atau setidaknya saya sudah lupa caranya.

Ternyata, kalau dilihat lagi, alasan utama saya sudah tidak pernah menumpahkan perasaan saya di blog saya sendiri, adalah karena saya penakut dan cengeng juga. Ketika saya menuliskan sesuatu tentang yang sedih-sedih, saya akan membukanya lagi suatu hari. Makanya akhir-akhir ini saya agak takut nonton film cinta, baca kisah cinta, atau apapun itu yang berbau sedih, karena saya tahu dampaknya buat saya agak frik. Contohnya hari ini, saya buka blog temen saya itu (yang isinya lagi sedih), dhueesss! Sensasi rasa itu rasanya menyergap saya seketika. Sesak meeen. Tiba-tiba jantung saya rasanya sakit, sakit sekali. Kemudian saya mulai teringat kembali hari hari menyedihkan itu, semua yang menyedihkan, dan menyenangkan (yang kemudian ujungnya jadi menyedihkan), dan rasanya sakit sekali. Saya bahkan meneteskan air mata saat menuliskan ini. Saya tidak tahu kenapa, hanya saja rasanya sakit.

Dan saya tidak mau merasa sakit lagi,

Setidak-tidaknya di salah satu artikel majalah Psychology Today (saya lupa edisi kapan) yang sempat saya baca ada mekanisme dimana setelah suatu kejadian buruk kita bisa ‘membuat diri kita’ atau ‘memaksa’ atau ‘berpura-pura’ untuk menjadi baik-baik saja, untuk kemudian menjadi betul-betul baik-baik saja. Saya berusaha berpegang kepada hal itu. Karena marah itu melelahkan, dan sedih itu menyebalkan, dan saya tidak mau memiliki dendam secuil apapun, saya nggak mau lagi bicara hal-hal buruk dan menyakitkan. Saya tidak mau lagi memikirkan hal-hal yang cuma bisa bikin saya sedih ujung-ujungnya tanpa yang dipikirkan pun merasa peduli, saya tidak mau tahu apa-apa lagi tentang itu semua. Ya, saya serius banget soal ini.

Saya cuma ingin hidup tenang.

Saya cuma ingin bahagia.

Karena saya sepenuhnya tidak memiliki hak untuk protes terhadap apapun lagi.

Kayanya gara-gara itu saya jadi nggak pernah nulis yang sedih-sedih lagi. Padahal ini blog saya sendiri. Saya tidak mau lagi banyak orang tahu apa yang  benar-benar sedang saya rasakan. Salah satu alternatifnya ya dengan begini, soalnya amygdala nggak bisa dicopot sih.

- D! -

June 17, 2009

GARAGE SALE di Sanggar Baca Kokeci

Halo teman-teman semua, sebelumnya ijinkan saya menjelaskan sedikit tentang sanggar KoKeci (link untuk blog ada di blog roll saya)
Logo
Sanggar Kokeci adalah sebuah sanggar membaca, menulis, dan bermain yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif universal sedari dini pada anak-anak Indonesia. Nama Kokeci sendiri diambil sebagai singkatan dari tempat sanggar ini bernaung, yaitu di Komplek Keuangan Cilandak.
Selain itu, Sanggar Kokeci juga berusaha untuk  menjadi wadah bagi para remaja Indonesia yang ingin menjadi sukarelawan dengan terlibat dalam setiap kegiatannya. Saya sendiri mulai bergabung dengan sanggar Kokeci terhitung sejak bulan Maret dan setiap hari Sabtu sudah ikut ‘ngendon’ disana untuk bermain dan belajar sama adik-adik yang ada disana. Disini saya juga belajar banyak gimana cara untuk berinteraksi dengan adik-adik kecil supaya mereka bisa menangkap apa yang saya sampaikan, demikian juga sebaliknya.
Dalam kesempatan kali ini, kami ingin memberikan informasi bahwa :

Sanggar Kokeci is Proudly Present

“GARAGE SALE”..

Seluruh Penghasilan 100% AKan digunakan Untuk Penyelenggaraan Kegiatan-Kegiatan Sanggar Kokeci..

Acara Akan dilaksanakan pada

Minggu 28 Juni 2009,

Pukul 09.00 – Selesai,

bertempat di Sanggar Kokeci Jl. Keuangan Raya No 2 Jakarta Selatan 12430

Ayo ayo ramaikan Garage Sale-nya

Ayo ayo ramaikan Garage Sale-nya

Saat ini Kami Sedang mengumpulkan berbagai Barang yang Akan kami Jual di Garage Sale Tersebut.
Bagi Kakak-kakak dan temen-temen semua yang mau menyumbangkan barang2 layak pakai (dan layak jual,hehehe) Jangan Segan untuk

Hubungi Dhea (saya) di 08569029462 atau 02199264270.

Barang Kami Jemput Ke Tempat Anda :)
Mari Beramal sembari Berkontribusi Pada Pendidikan Anak Indonesia!
(Terbuka Kesempatan Juga Untuk BerVolunteer)
- D! -

June 11, 2009

Uniquely Beautiful

this is what I call uniquely beautiful

and this one also

can’t get enough of it

ok, I promise this is the last one

Zooey Deschanel was born in Los Angeles, California,and is the daughter of Academy Award-nominated cinematographer and director Caleb Deschanel and actress Mary Jo Deschanel (née Weir). She is of Irish and French descent.

She was named after Zooey Glass, the male protagonist of J. D. Salinger’s 1961 novella Franny and Zooey. Her older sister Emily Deschanel is also an actress and stars in the TV series Bones.

Zooey Deschanel.

Cute :)

Pictures and test taken from http://zooeydeschanel.tumblr.com/

- D! -

June 11, 2009

Kecewa, tapi bangga

Postingan yang sebelumnya sebetulnya merupakan bagian dari obrolan antara saya dan teman saya mengenai apa arti keberanian, obrolan itu berasal dari pengalaman saya sebelumnya. Berikut ceritanya :

Sabtu, 30 Mei 2009 adalah hari yang bersejarah buat saya. Sejak jam setengah 8 pagi saya sudah berdiri di Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Gedung Mandala, Kuningan, dengan memakai blazer dan rok sepan selutut berwarna hitam serta kemeja berwarna kuning gading (atau putih butek), ditambah lagi dengan sepatu berhak 7cm, dan wajah yang dipoles make up tipis. Sambil menengok ke kiri dan ke kanan saya mengantri sambil menunggu giliran untuk diberi nomor urut dan dicatat tinggi serta berat badannya. Demikianlah, hari itu saya menjadi salah seorang peserta audisi sebuah ajang yang berkaitan dengan pariwisata dan budaya (bagi yang memiliki dugaan, silahkan menduga-duga) hehe.

Hari itu saya diliputi perasaan deg-degan luarbiasa sekaligus juga sangat antusias terhadap apa yang akan saya alami. Padahal, pada awalnya saya ikut hanya untuk iseng aja berhubung nggak pernah tau prosedur atau apa yang dibutuhin untuk ikutan ajang seperti ini. Keikutsertaan saya kali ini pun sebenernya hasil dari ajakan temen saya yang sangat semangat, persiapan pun hampir semuanya dibantu dan diurus oleh temen saya itu. Mulai dari urusan foto sampai bahan pengetahuan yang butuh untuk diketahui untuk ikutan ajang itu. Pada hari H-nya saya nggak tau kenapa saya disergap rasa antusias begitu melihat banyak sekali orang-orang baru. Selain iming-iming jalan-jalan gratis saya justru lebih tertarik kepada hal baru apa aja yang bisa saya dapetin dan saya pelajari lewat keikutsertaan saya (kalau lolos jadi finalis tentu saja).

Rasa antusias dengan cepat bercampur menjadi rasa deg-degan, terutama ketika memasuki ruangan audisi untuk menerima pertanyaan. Saya merasa cukup yakin bahwa pengetahuan saya sudah cukup baik dan saya siap menerima pertanyaan yang berupa pendapat berkaitan dengan kota Jakarta. Pertama-tama naik dulu ke podium dan kasi salam ke juri. Setelah memperkenalkan diri, saya mengambil satu gulungan kertas di fishbowl. Pertanyaan nomor 5

“Apa makna persahabatan bagi Anda ?” *DOEEENNGG!* saya agak kaget mendengar pertanyaannya, tarik napas dikit, yak dijawab aja

Terima kasih atas pertanyaannya, bagi saya persahabatan sangatlah penting. Dengan sahabat, saya bisa saling jujur untuk saling membangun dan melengkapi dimana jika sahabat saya melakukan kesalahan atau kekurangan saya bisa mengingatkannya untuk memperbaikinya, dan demikian juga sebaliknya. Terimakasih (senyum)

Ya demikian cuplikan pengalaman saya pada hari itu, pada akhirnya toh saya gagal dan tidak lolos bahkan ke semifinal sekalipun. Kecewa? Pasti. Saya sendiri cukup kaget mendapati diri saya kecewa seperti itu karena pada awalnya toh saya ikutan ajang ini cuma untuk iseng dan rasa ingin tahu akan ajakan teman. Namun, dari 6 orang yang saya temui disana 2 diantaranya berhasil lolos ke semifinal dan hal itu cukup mengusik harga diri saya. Mulai deh saya mencari cari dimana letak kesalahan saya. Mau berapa kali dipikir pun saya nggak nemu juga, dan itu sedikit menghibur saya karena saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Setelah menelepon seorang teman dan akhirnya bisa terhibur saya akhirnya bisa ketawa-ketawa tolol lagi.

Beberapa hari kemudian, teman saya yang menjadi panitia ajang tersebut memberi tau saya mengapa saya tidak lolos, katanya masalah ada pada postur tubuh saya yang sedikit bungkuk dan gestur yang kurang yakin. Baiklah, itu masuk akal. Setidaknya masalahnya bukan pada jawaban saya. Yah apapun permasalahannya, di sini saya memperoleh beberapa pelajaran yang penting.

Pertama, tentu aja menyangkut postur dan gestur itu tadi, saya jadi sadar bahwa postur bisa sangat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap saya.

Kedua, dan yang lebih penting lagi, adalah kenyataan bahwa dengan keikutsertaan saya di ajang ini membawa saya keluar dari pintu kungkungan yang selama ini saya buat sendiri. Selama ini saya selalu merasa diri saya tidak cukup mampu untuk melakukan apapun yang sebetulnya ingin saya coba, tepatnya ini kerasa banget waktu saya SMA dimana saya membatasi diri untuk tidak ikut ekskul yang saya minati, tidak berani mendaftarkan diri untuk pertukaran pelajar, tidak terus ikut serta kegiatan LDK untuk penyaringan BPH PK OSIS, dan masih banyak lagi. Hal ini terus berlangsung sampai di bangku perkuliahan. Sebetulnya waktu ditawarin ikutang ajang ini juga saya merasa buat apa? Toh saya tidak cantik, tidak pintar, dan tidak memiliki kemampuan bicara di depan umum, tidak, kurang, tidak, kurang, dan tidak. Akhirnya sih nekat aja, walaupun gagal juga.

Ketiga, saya belajar bahwa sebuah kegagalan memberikan banyak sekali pelajaran dan gatau kenapa justru memberikan keberanian baru buat saya. Dengan hal ini saya merasa bahwa sebetulnya saya tidak memiliki alasan samasekali untuk membatasi diri saya selama saya serius dalam menjalankannya. Gatau kenapa saya seperti tersadarkan bahwa sebetulnya banyak kesempatan yang datang pada diri saya dalam hal apapun, tapi saya yang terlalu malas atau terlalu takut untuk mencoba. Berdasarkan pengalaman ini saya berpikir saya sebetulnya punya kemampuan, cuma kurang keberanian. Dengan kegagalan juga saya jadi tahu di bagian mana saya salahnya, sehingga bisa saya perbaiki di lain kesempatan (dimana tentu kesempatan itu masih banyak banget di luar sana).

Dunia tidak selebar daun kelor dan hidup cuma sekali. Sayang banget kalau saya cuma duduk duduk diam dan mengeluh aja disini tanpa mencoba membuka diri (dan menawarkan diri) pada dunia. Pengalaman-pengalaman seperti ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai setiap kesempatan yang datang pada saya dan lebih menyayangi diri saya, dengan demikian saya harap juga saya dapat lebih mencintai hidup. Karena mau gimana juga, sebenernya cuma diri kita sendiri yang kita punya kan, dan hidup kita ada di tangan kita.

Gitu deh, walaupun saya gagal dan kecewa dalam pengalaman ini, tapi ada sedikit rasa bangga yang terselip karena saya sudah berani mencoba sesuatu yang baru dan berani untuk percaya pada diri saya bahwa saya mampu melakukannya. Saya berharap, dengan ini saya lebih berani menyambut apapun yang ditawarkan hidup kepada saya. God is always around, anyway :)

- D! -

June 1, 2009

about courage (at 2.17AM)

“berarti skrg lo lg ditantang untuk lebih berani. berani menghadapi kekalahan dan bangun lagi, berani maintain percaya diri lo, berani meyakinkan diri lo sendiri untuk maju terus”

courage is not something u can claim in one try kan, u can only be called brave when u have several attempts and still attempt to have more

(Anindita Surachmad, 2009)

Thankyou dear :)

June 1, 2009

Refleksi kadang bisa bikin repot

Halo halo,  rasanya udah lama banget saya nggak nulis di sini yah. hahaha tugas-tugas kuliah sialan itu memang luarbiasa menyita waktu deh. Yah baiklah, berhubung sekarang ini juga menjelang memasuki masa liburan, mungkin saya sudah memiliki waktu yang agak lebih longgar sehingga bisa mulai menulis lagi.

Sejak setahun belakangan, saya merasa saya menjadi orang yang jauh lebih reflektif dibandingkan sebelumnya. Yah, sebetulnya, sejak saya masuk di fakultas psikologi saya sudah mulai menjadi orang yangl ebih reflektif sih, tapi sejak setahun belakangan ini dosisnya meningkat lagi.

Sistem perilaku reflektif, ialah sistem yang menghasilkan tingkah laku yang didasarkan oleh pengetahuan seseorang mengenai kepercayaan ataupun nilai-nilai yang ada di lingkungannya (Fritz Strack & Roland Deutsch, 2004). Sesuai dengan hal tersebut, maka saya pun, dalam rangka bertingkah laku lebih reflektif, senantiasa melihat kembali apa-apa saja yang telah saya lakukan (dan katakan) dan kemudian menilainya, untuk melihat apakah tingkah laku saya tersebut sudah baik, memungkinkan untuk memberikan manfaat bagi diri saya maupun orang lain, ataukah justru menyakiti orang lain -bila dibandingkan dengan nilai maupun norma sosial yang sudah ada-.

Kebiasaan untuk menilai tingkah laku saya ini terjadi secara simultan sebelum saya melakukan sesuatu, saat saya sedang melakukan sesuatu, ataupun setelah saya telah selesai melakukan sesuatu. Namun, waktu-waktu dimana saya kembali memikirkan dan melihat apa-apa saja yang telah saya lakukan adalah malah hari. Ketika saya telah selesai menjalani satu hari itu, setelah saya sampai di kosan dan sudah mandi dan sudah makan, maka saya akan duduk diam di meja belajar saya sambil mengulang kembali kejadian apa saja yang saya jalankan dan saya lewatkan pada hari itu.

Biasanya, saat saya melakukan hal itu saya juga mencoba mengingat-ingat dengan siapa saja saya berinteraksi hari itu, apa saja yang sudah saya katakan, apakah saya mencela orang lain hari itu, apakah saya membicarakan kejelekan orang lain hari itu, apakah semua kegiatan yang saya rencanakan untuk hari itu berhasil terlaksana dengan baik, apakah saya menjalankan segala sesuatunya dengan tepat waktu, kebaikan dan keburukan apa yang telah saya lakukan pada satu hari itu, apa saya mampu mengendalikan emosi saya, dan sebagainya-dan sebagainya. Setelah saya selesai mengevaluasi tindakan saya, maka saya melanjutkan dengan membuat rencana untuk esok hari, kemudian solat dan mengerjakan tugas (atau sebaliknya, atau bisa juga langsung tidur semena-mena).

Untuk banyak hal, yang saya lakukan ini banyak gunanya, dimana yang jelas saya bisa melakukan semua hal yang saya anggap kurang dengan lebih baik di hari yang akan datang, karena saya tau bahwa hal itu bisa diperbaiki. Namun, selain menguntungkan, ternyata kebiasaan ini bisa jadi merepotkan. Kenapa merepotkan?

Seperti yang telah saya bilang sebelumnya, bahwa selain pada malam hari, saya juga mencoba mengevaluasi diri secara simultan saat saya sedang melakukan sesuatu atau saat saya sedang berbincang dengan seseorang. Ada waktu-waktu dimana sebetulnya saya tidak begitu menyukai lawan bicara saya, entah karena nada suaranya, topik yang dibicarakan, atau mungkin karena emang nggak cocok aja. Sebelumnya, kalau saya merasa tidak suka sama orang saya akan curhat kepada teman saya, atau curhat lewat tulisan, si ini begini si ini begitu, ‘ih dia tuh gatau ya bblalalalala’ gitu. Sekarang saya tidak bisa segampang itu lagi memberi komentar terhadap orang lain.

Akhir-akhir ini, kalau saya mulai merasa tidak suka atas perkataan orang kepada saya, atau saya sebel sama orang, yang saya lakukan adalah diem, terus mikir. Waktu saya diem itu, biasanya hal-hal yang saya mampir di pikiran saya adalah semacam penenangan diri, seperti “oh ya mungkin dia terbiasa bicara dengan nada seperti itu”. “oh ya, mungkin di rumahnya dia memang diajarin untuk bertindak seperti itu jadi emang udah biasa ya gak bisa disalahin dong”. Atau, yang paling jelek adalah “waduh, gue gabisa sebel sama orang ini nih, jangan-jangan gue juga pernah gini ke orang”.

Hal-hal seperti inilah yang kadang-kadang bisa saya repot dan capek. Masalahnya adalah, saya juga manusia biasa, yang masih bisa merasa sebel dan sakit hati, dendam dan tidak ikhlas, iri dan perasaan-perasaan lain yang menjadikan seseorang sebagai manusia. Dengan tingkah laku reflektif ini saya kadang merasa ‘tidak bebas’ untuk merasa marah terhadap orang lain, merasa sakit hati, atau merasa kesal, karena saya selalu mengingatkan diri saya bahwa mungkin aja orang yang bikin saya kesel atau sakit hati itu justru tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Atau ya, mungkin buat dia itu bukan suatu masalah. Hal-hal seperti ini yang kadang bikin saya cuma bisa diem dan menghela napas. Dalam waktu-waktu dimana saya sedang diliputi atmosfer dan mood positif, saya akan mencoba berdamai dengan emosi saya sendiri dan berpikir rasional, tapi di beberapa waktu yang buruk (misalnya ketika saya sedang capek, atau terlalu banyak kerjaan yang harus saya pikirkan) saya bisa saja melampiaskan emosi negatif saya ke sasaran yang salah.

Yah kalau temperamen neurotik saya mulai muncul saya suka iri dengan orang-orang yang santai, yang tidak terlalu sensitif seperti saya, yang bisa melakukan dan mengatakan segala sesuatunya dengan tenang tanpa khawatir bagaimana dampak komunikasi yang mereka sampaikan kepada lawan bicara mereka. Saya juga iri kepada orang-orang yang bisa menyembunyikan perasaan mereka, tidak seperti saya yang cenderung ekspresif, sebel mukanya keliatan sebel, sedih juga keliatan, marah juga keliatan. Kadang-kadang ke-ekspresif-an (atau ekspresivitas?) itu membuat repot kalau ditambahkan dengan perilaku reflektif ini.

Sekali lagi, mungkin saya lah yang masih butuh belajar.

April 1, 2009

Saya (buruk) dalam Mempupuk Pertemanan?

Bulan lalu saya baru saja menyampaikan keluhan saya kepada salah satu temen saya (sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya Cantika hehehe) mengenai betapa dia begitu sulit meluangkan waktunya untuk teman-temannya, dalam hal ini untuk pergi main sama temen-temennya berhubung dia begitu sibuk luar biasa. Sebetulnya bukan cuma saya yang sebel sama kebiasaannya membatalkan janji main karena dia sibuk, beberapa temen deket yang lain juga sempat mengeluhkan mengenai hal itu, hanya saja belum menemukan cara yang pas untuk bicara langsung dengannya. Berhubung saya tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang mengganjal dari orang-orang terdekat saya, (apalagi kalau hal itu cenderung gak enak dan bisa mengganggu jalannya hubungan pertemanan) maka saya berusaha menyuarakannya. Dalam penyampaiannya tentu saja saya berusaha se-asertif mungkin dan tidak meledak ledak (ini juga satu hal yang sedang berusaha saya perbaiki).

Saya berkata pada temen saya itu, kalau terus begitu dia bisa membuat temen-temennya merasa tidak dihargai, dampak paling buruk adalah dia bisa menjadi workaholic yang akan ditinggalkan oleh temen-temennya (oke ini berlebihan sih, biar beneran ‘ngeh’ aja sih hehe).

Alhamdulillah sih, sepertinya maksud saya tersampaikan dengan baik dan mudah-mudahan teman saya tidak tersinggung, karena pada dasarnya ini demi kepentingan bersama. Prinsipnya saling mengingatkan. Saya lihat juga semakin ke sini temen saya itu sudah mulai meluangkan banyak waktu untuk temen-temennya, walaupun tentu saja dia masih sibuk luar biasa hehehe.

Sebetulnya seberapa penting sih hal-hal seperti itu? Maksudnya, meluangkan waktu untuk temen, berbagi cerita dan berempati serta memiliki quality time dengan temen-temen terdekat kita? Saya tidak tahu pasti jawabannya, tapi ada temen saya (sebut saja Saski, bukan nama sebenernya, soalnya nama sebenernya panjang bener kalo ditulis semua) yang memiliki prinsip “temen itu kaya tanaman, jadi harus dijaga, dipupuk, dan dirawat”. Saya sih setuju-setuju aja dengan prinsipnya ini, dan saya selama ini merasa cukup nyaman dengan pertemanan saya secara umum. Saya selama ini merasa sudah cukup baik membagi waktu dan menjaga agar semua aspek kehidupan saya tetap seimbang  sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa ditinggalkan dan kecewa sehingga kemudian semuanya berjalan buruk. Hal ini berlaku baik dalam kehidupan akademis, kepanitiaan, organisasi, keluarga, pertemanan, sampai percintaan (walaupun aspek yang terakhir ini akhir2 ini lagi saya cuekin berat).

Tapi, ternyata itu semua hanya perasaan saya aja sodara-sodara!

Kenapa begitu?

Jadi, ceritanya begini. Baru-baru ini saya baru saja menerima keluhan dari salah seorang temen yang disampaikan secara tidak langsung (jadi ceritanya saya taunya dari temen saya yang lain, orangnya nggak ngomong langsung gitu). Katanya salah seorang temen saya merasa sebel sama saya (sebut saja inisialnya AD) dan dia curhat sama temen saya yang lain (sebut saja inisialnya PM). Sebetulnya sampai hari ini saya juga kurang begitu paham keluhan pastinya apa, karena toh saya dapetnya bukan dari orangnya langsung. PM sebelumnya sudah mendiskusikan dengan 2 orang temen saya yang lain (NF dan MG) apakah sebaiknya saya diberitahu mengenai hal ini atau tidak, ujungnya saya dikasih tau juga. Bingung banget sih saya karena informasinya simpang siur. Ketika saya bertanya ke PM, NF dan MG sebetulnya AD sebelnya kenapa, eehh ketiganya memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Saya semakin bingung, lama-lama sebel sendiri soalnya AD nggak ngomong langsung ke saya. Gimana saya bisa tau apa salah saya kalo dia nggak mau kasih tau ke saya? Terus saya harus gimana ya? Huff, tarik napas sedikit curhat ke orang yang lebih tenang dari saya, lalu saya ingat, oh iya, mungkin AD juga nggak tahu gimana cara ngomongnya ke saya, mungkin juga AD berpikir itu cuma perasaan sesaat jadi nggak perlu sesegera itu juga diomongin nanti juga ilang sendiri, tetep aja saya takut banget sama sesuatu yang nggak diomongin kaya gini tau-tau DHUAAARRRR meledak aja gitu, tamat deh saya. Walaupun cuek, saya kan juga bisa berasa bersalah dan nggak enak-an.

Oke, akhirnya saya menarik kesimpulan yang paling logis dari kesebelan si AD, yaitu :

1. Si AD sebel karena merasa saya tidak sepeduli itu ke dia, setidaknya tidak sepeduli dia kepada saya

2. Gaya pertemanannya berbeda

3. Saya emang tipe yang tidak terlalu terikat pada beberapa orang temen aja

4. Saya terlalu cuek dan kurang empatik

picture taken from deviantart.com

picture taken from deviantart.com

Kesimpulan lebih lanjut adalah, sepertinya saya kurang memupuk pertemanan saya dengan orang-orang terdekat saya. Sejujurnya, saya memang bukan tipe yang bisa perhatian ke temen-temen saya gitu, misalnya, saya tidak mungkin bisa segera menyadari temen saya memiliki kesulitan, saya bukan tipe yang baik dalam mengingat tanggal ulang tahun temen dan keluarganya, saya tidak perhatian dan tidak mengayomi, saya tidak rajin memberi hadiah-hadiah kecil yang imut ke temen-temen saya, saya bukan tipe yang suka memberi hadiah ulangtahun, bukan tipe yang kalau pergi makan ke luar terus pulang-pulang ngebawain makanan buat temen atau keluarga saya, bukan tipe yang kalo lagi jalan-jalan terus inget temennya lagi butuh apa terus kalo kebetulan liat dibeliin dulu, samasekali bukan.

Di lain pihak saya juga bukan tipe temen yang mengikat, saya tipe yang cuek kalo temen saya mau main sama orang lain, bukan tipe temen yang harus selalu diajak kalo temen saya mau main kemana sama siapa, tipe yang santai kalo temen nggak bales sms, tipe yang nggak cuma main sama beberapa orang aja, tipe yang pada umumnya nggak selalu mau tau kalo temen saya lagi punya urusan sama orang lain, tipe yang santai-santai aja lah pokoknya.

*tiba-tiba saya membandingkan dengan ketika saya punya pacar, semuanya terbalik, saya tipe yang pencemburu dan perhatian berlebihan kalo punya pacar* (info kurang penting yang agak aneh)

Berdasarkan keluhan AD saya akhirnya mulai berpikir mengenai hal-hal tersebut. Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran bahwa hal-hal seperti itu bisa mengganggu hubungan pertemanan ataupun hubungan interpersonal apapun yang ada dalam kehidupan saya, nyatanya dampaknya bisa cukup besar ya? Saya jadi berpikir, mungkin meluangkan waktu untuk main dan ngobrol sama temen dekat aja belum cukup ya, mungkin rasa empati saya harus lebih dipupuk, mungkin saya harus lebih membagikan afeksi kepada orang-orang terdekat saya.

Singkatnya sih, saya merasa bersalah. Lalu saya ingin berubah untuk memperbaiki diri saya, walaupun tentu saja tidak sedrastis itu, berhubung yang mengeluh baru satu orang saja, namun kritik dan keluhan tentu saja saya hargai sebagai bahan evaluasi dan refleksi saya.Walaupun ada kutipan yang mengatakan ” Your friend is someone who knows all about you, and still likes you” – Elbert Hubbard, namun saya percaya segala bentuk hubungan interpersonal itu harus  dua arah, ketika saya mendengar keluhan, maka saya harus melihat terlebih dahulu ke dalam diri saya sendiri, apa yang bisa saya perbaiki, mengkomunikasikannya, dan mengambil jalan tengah supaya kedua belah pihak juga enak dalam menjalankannya.

“I get by with a little help from my friends.”
- John Lennon

Ada yang punya ide saya harus mulai darimana?

- D! -